admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Bermula dari Waktu #3

Oleh:
Ageng Indra

Mangsa menyitir Herusatoto,1 adalah istilah perlambangan bagi pertandaan periodisasi iklim (keadaan cuaca alam) di bumi akibat pengaruh pergeseran letak garis edar matahari. Mangsa (iklim) dibagi dalam dua belas tahap perputaran (periodisasi), yaitu: Pertama, Mangsa Mareng (musim pancaroba-5 kondisi serba kalut) akibat peralihan musim hujan ke musim kemarau, yaitu kadang-kadang hujan deras, hujan angin, angin besar berganti-ganti (angin besar, lamban; kering; dan berganti suhu udara sangat dingin atau bedhidhing. Kedua, Mangsa Ketelu (musim kemarau) yang kering. Ketiga, Mangsa Labuh (awal musim penghujan), Keempat, Mangsa Rendheng (musim penghujan) dan seterusnya. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Pemahaman semacam ini juga dikenal oleh suku-suku lainnya di Indonesia, seperti suku Sunda dan suku Bali (dikenal sebagai Kerta Masa).2 Dengan begitu, maka alam secara otomatis menjadi elemen kunci dalam konsep pewaktuan orang Jawa hingga kini.

Dalam Kawruh Pawukon juga dikenal istilah sangat—saat atau waktu yang tepat bertalian dengan baik buruk atau untung-malang. Disebutkan pula bahwa, sangat adalah kurun waktu tertentu yang sangat singkat (sekejap atau beberapa menit) menurut perhitungan waktu tarikh suryakala (perhitungan tahun kalender menurut sistem edar matahari) yang diambil dari tarikh Jawa Asli Pranata Mangsa. Dalam perhitungan sangat juga dipercaya oleh orang Jawa memiliki kalahala (saat gangguan) atau kala-bendu (benah, tulah atau sebab akibat), saat jelek (banyak bencana), yakni pada empat saat (sangat):

1)     saat gagat-esuk, gagating raina (pada saat terbit fajar).

2)     sa’at surya tumumpang aksa (tengah hari saat matahari tepat di atas kepala).

3)     saat sandyakala/sandhekala (Senjakala).

4)     saat candra tumumpang aksa (tengah malam saat bulan purnama tepat di atas kepala).

Pada keempat saat di atas orang diwajibkan berada dalam kondisi jagra (terjaga, bangun, sadar diri), berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya marabahaya.3 Dengan cara ini konsepsi waktu yang profan, sehari-hari, kronologis dan historis ditiadakan, atau meminjam istilah Mircea Eliade, orang pergi pada The Great Time: waktu agung atau waktu yang suci (a sacred time).4 Maka dengan menceritakan sebuah mitos awali (misal, dongeng Watu Gunung), manusia mengaktualisasikan kembali waktu yang sakral, seperti yang pada awal terjadi, di mana terjadi peristiwa yang ingin diperingati. Artinya, dengan memahami Pawukonnya, orang dibawa kedalam waktunya yang sakral. Karena dibawa ke dalam waktu yang sakral, orang dapat memahami diri dan situasinya dengan lebih jernih. Ia menjadi lebih dekat dengan keselamatannya dan dijauhkan dari kemalangannya. Lantas bagaimana konsepsi tentang waktu ini kemudian dimaknai dan dipraktikkan oleh masyarakat (Jawa) kiwari.

  1. Budiono Herusatoto, Mitologi Jawa: pendidikan moral dan etika tradisional, Edisi revisi, cetakan pertama (Yogyakarta: Narasi, 2019),  28–29. ↩︎
  2. “‘Kerta Masa’ Dari Penggak Men Mersi: Pertanian Adalah Ibu Kebudayaan Bali,” tatkala.co, November 6, 2022, https://tatkala.co/2022/11/06/kerta-masa-dari-penggak-men-mersi-pertanian-adalah-ibu-kebudayaan-bali/.\n ↩︎
  3. Herusatoto, Mitologi Jawa, 35. ↩︎
  4. Sindhunata and Hermanu, Pawukon, 13–15. ↩︎
Ageng Indra
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram