Upacara adat selalu dihadapkan pada persoalan-persoalan yang terkait dengan keberadaannya di tengah kehidupan yang terus berubah. Ketika upacara adat dipahami sebagai suatu bentuk ritual ataupun tradisi yang dilakukan oleh masyarakat wilayah tertentu atau sebagai sarana yang relatif umum untuk berkomunikasi dengan kekuatan-kekuatan adikodrati, nuansa-nuansa lokal yang terkandung dalam upacara adat tersebut harus dapat bernegosiasi secara terus-menerus dengan kuasa-kuasa dominan yang melingkupi keberadaannya.1 Dalam konteks ini upacara adat akan terus bertemu, berinteraksi atau bergulat dengan berbagai macam terpaan kuasa seperti kuasa ekonomi, politik, keagamaan, teknologi, dan gaya hidup yang selalu hadir di dalam kehidupan masyarakat.2
Tapa bisu merupakan salah satu upacara yang bertujuan untuk memperingati peringatan tahun baru Jawa pada 1 Sura atau tahun baru Hijriyah pada 1 Muharram. Upacara ini dilakukan dengan mengelilingi benteng Keraton. Kemungkinan tapa bisu dilakukan untuk refleksi diri atas setahun yang telah berlalu serta resolusi untuk satu tahun ke depan.
Upacara adat yang dilakukan oleh Kesultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kalender Jawa. Kedua kerajaan ini melaksanakan berbagai upacara adat yang bernafaskan agama Islam yang telah berlangsung sejak kerajaan Demak dan Mataram.
Grebeg merupakan upacara yang berasal dari tradisi Jawa kuno yang bernama Rajawedha. Pada upacara tersebut raja akan memberikan sedekah demi terwujudnya kedamaian dan kemakmuran wilayah yang dipimpinnya. Tradisi ini sempat terhenti saat Kerajaan Demak berdiri. Akibatnya, masyarakat menjadi resah dan meninggalkan agama baru tersebut. Menyikapi kondisi ini, Wali Songo yang juga menjadi dewan penasehat Raja Demak mengusulkan agar tradisi sebelumnya dihidupkan kembali. Akan tetapi, upacara kali ini dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat digunakan menjadi sarana penyebaran agama Islam.
Ada tiga jenis grebeg yang dilaksanakan di keraton, yakni Grebeg Mulud, Grebeg Sawal, dan Grebeg Besar. Grebeg mulud merupakan upacara untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan pembawa ajaran Islam. Kelahiran Nabi Muhammad perlu dirayakan untuk mengingat saat kelahiran, mukjizatnya, dan kepribadiannya. Selama peringatan ini, umat Islam bersedekah, dzikir, dan mengagungkan nabi Muhammad.
Nyadran sendiri berakar dari kebudayaan Hindu Kuno di Jawa. Asal kata nyadran adalah shraddha yang memiliki arti iman. Jika diartikan secara ritual shraddha berarti upacara untuk mendekatkan dan mendoakan arwah nenek moyang. Shraddaha dilakukan dengan cara menunjukkan rasa hormat kepada nenek moyang dan bersyukur atas melimpahnya air dan alam. Ritual ini dilakukan sepanjang tahun. Ritual sraddha merupakan aspek penting dalam pemujaan leluhur dan merupakan aspek integral yang ada dalam agama Hindu. Keyakinan mengenai kehidupan setelah kematian yang dijalani nenek moyang terdapat dalam Pituruloka pada periode Pra Weda. Pituruloka merupakan tempat yang terletak di antara bumi dan langit dan dihuni oleh tiga jiwa generasi sebelumnya. Jiwa anggota berikutnya lepas melalui kematian di bumi dan mencapai pituruloka (Purwaningsih, Suwarno, Fibiona, 2016 :33).3
Setelah masuknya agama Islam, upacara nyadran disesuaikan dengan ajaran agama Islam dari sekedar berdoa kepada Tuhan menjadi ritual pelaporan dan wujud penghargaan kepada bulan Syaban yang kemudian dikaitkan dengan tradisi nisfu Syaban. Hal ini dikaitkan dengan bulan Syaban yang datang sebelum Ramadhan sebagai bulan pelaporan amal perbuatan manusia. Oleh karena itu pelaksanaan ziarah menjadi sarana introspeksi selama setahun penuh atas segala amal perbuatan yang dilakukan selama setahun sebelumnya. Adapun doa yang dibaca adalah tahlil untuk memohon ampunan atas kesalahan yang dilakukan oleh leluhur. Nyadran dilaksanakan pada bulan Ruwah atau Syaban menjelang Ramadhan.4
Dalam acara nyadran biasanya juga diadakan pengajian yang isinya mengupas makna kehidupan (sangkan paraning dumadi) yaitu bahwa yang meninggal pernah hidup sementara yang hidup juga akan meninggal. Oleh karena itu orang Jawa mengajarkan agar bisa mati dengan baik maka harus hidup dengan baik. Kebaikan ini ditujukan kepada Tuhan, sesama manusia, maupun makhluk hidup dan alam semesta.
Selanjutnya ada upacara Bekakak yang berlangsung pada bulan Sapar pada hari Jumat antara tanggal 10 hingga 20. Bekakak adalah korban penyembelihan bisa berupa hewan atau manusia. Namun, dalam peringatan ini yang disembelih adalah boneka sepasang pengantin yang terbuat dari tepung ketan. Sepasang pengantin ini merupakan penggambaran dari Kyai dan Nyai Wirosuto. Upacara ini menjadi napak tilas yang memperingati awal mula berdirinya Keraton Yogyakarta dari Pesanggrahan Ambarketawang, Gamping, Sleman, DI Yogyakarta. Tujuan upacara ini adalah mengenang perjuangan pasukan Pangeran Mangkubumi dalam menghadapi pasukan VOC.