Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi rasa (feeling) dalam langkah kehidupannya. Rasa di sini adalah hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika langgam-langgam arsitektur Jawa juga memiliki ikatan dengan rasa tersebut, termasuk perhitungan berdasarkan penanggalan Jawa. Perhitungan ini dilakukan agar tidak ada gangguan selama proses pembangunan maupun setelah rumah berdiri serta mengundang kebaikan agar terus ada di rumah tersebut.
Rumah dalam bahasa Jawa disebut omah. Omah berasal dari dua kata, yaitu om berarti bapa angkasa yang memiliki sifat laki-laki dan mah yang berasal dari kata lemah (tanah) yang memiliki sifat perempuan. Berdasarkan istilah tersebut, rumah merupakan perpaduan antara bumi dan langit yang saling melengkapi. Selain omah, nama rumah di Jawa adalah dalem. Istilah dalem berarti hakikat diri. Oleh karena itu, dalam membangun rumah tidak bisa dilakukan secara asal-asalan, tetapi harus dilakukan dengan penuh perhitungan.1
Saat membangun rumah, kalender Jawa memainkan peranan penting dalam proses pembangunan. Dalam Betaljemur Adammakna dijelaskan tata cara pembangunan rumah sejak dari memasang pondasi hingga pembangunan atap.2 Bahkan dari balai depan hingga lokasi sumur yang sangat penting bagi keberlangsungan tuan rumah. Perhitungan yang digunakan meliputi bulan yang baik. Selain itu, penggunaan neptu yang merupakan hasil dari angka penjumlahan hari dan pasaran turut memainkan pemilihan awal pembangunan.
Kitab ini juga mengatur syarat dan tumbal sebelum memulai pembangunan rumah. Hal ini penting untuk menjamin lancarnya pembangunan rumah. satu hal yang menarik dalam kitab ini juga dijelaskan cara agar nyamuk tidak memasuki rumah. Yaitu dilarang menyanyi, berkata yang tidak bermanfaat, bergurau, merokok, memakan sirih, membeli serta makan selama proses pembangunan di dalam area rumah. Jika ingin melakukan hal-hal tersebut sebaiknya meninggalkan area sekitar rumah terlebih dahulu.