admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Fungsi Kalender Jawa sebagai Daur Hidup #2

Oleh:
Ageng Indra

Fungsi terakhir kalender Jawa dalam daur hidup adalah dalam kematian. Dalam ritus upacara kematian umumnya diselenggarakan oleh pejabat keagamaan di desa  (modin atau kaum). Pemakaman dalam budaya Jawa biasanya dilaksanakan secepat mungkin sesudah kematian. Ada kalanya keluarga menunda pemakaman untuk menunggu kerabat yang berasal dari tempat jauh. Alasan pemakaman disegerakan karena roh orang yang meninggal berkeliaran tak menentu sampai jasadnya dikuburkan. Jika dibiarkan, hal ini akan berbahaya bagi setiap orang, khususnya keluarga yang ditinggalkan. Sesudah jenazah dimakamkan, para pelayat akan kembali ke rumah atau pekerjaan masing-masing, tetapi tetangga dekat, teman, dan sanak keluarga kembali untuk melaksanakan slametan. Berikut siklus slametan kematian dalam budaya Jawa:

  1. Geblag 

Geblag atau disebut ngesur lemah merupakan upacara yang diselenggarakan saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan sore hari setelah meninggalnya seseorang. Istilah sur lemah artinya menggeser tanah (membuat liang lahat untuk menguburkan si mayit). Maknanya adalah memindahkan dari alam fana ke alam baka, dari tanah kembali ke tanah.

  1. Nelung dina atau tiga hari

Nelung dina  atau tiga hari dilaksanakan malam hari pada hari pasaran ketiga. Selamatan ini dimaksudkan oleh ahli waris untuk menghormati arwah orang  yang sudah meninggal. Roh tersebut diyakini masih di dalam rumah, namun sudah tidak lagi di tempat tidurnya. Roh sudah bersiap meninggalkan rumah dan keluarganya.

  1. Mitung dina atau tujuh hari

Mitung dina atau tujuh hari dilaksanakan pada tujuh hari setelah meninggal. Upacara ini dimaksudkan untuk menghormati arwah orang yang meninggal. Pada hari ketujuh, roh orang yang meninggal diyakini telah meninggalkan rumah. Oleh karena itu, ahli waris membuka genteng atau jendela sebelum selamatan agar memudahkan roh keluar dari rumah. Ahli waris membantu selamatan dengan tahlilan dan mendoakan arwah orang yang meninggal.

  1. Matang puluh dina atau empat puluh hari

Selamatan ini ditujukan untuk memudahkan perjalanan roh ke alam kubur. Ahli waris membantu dengan mengadakan tahlilan pada hari keempat puluh setelah meninggal. Upacara ini bertujuan untuk memberi penghormatan kepada orang yang sudah meninggal yang sudah mulai keluar dari pekarangan rumah menuju alam kubur. Roh sudah mulai bergerak menuju alam kubur. Roh mulai mencari jalan yang lurus dan bersih yang disapu saat pemakaman jenazah. Jika jalannya bersih, maka roh akan berjalan dengan lancar menuju alam kubur.

  1. Nyatus dina (100 hari kematian)

Nyatus dina atau seratus hari dilaksanakan saat orang yang sudah meninggal menginjak 100 hari. Selamatan ini dimaksudkan untuk menyempurnakan segala hal yang masih bersifat badan wadag. Di alam kubur, roh masih sering kembali ke rumah hingga upacara selamatan tahun pertama dan tahun kedua. Upacara ini perlu dilakukan agar arwah tidak bergentayangan dan mengganggu orang yang masih hidup.

  1. Mendhak sepisan (Peringatan setahun kematian)

Upacara mendhak sepisan bertujuan untuk memperingati setahun kematian. Mendhak sepisan berarti meling atau mengingat. Hal ini karena upacara ini untuk mengingat jasa-jasa dan kebaikan orang yang telah meninggal. Pada dasarnya upacara ini masih sama dengan saat peringatan seratus hari setelah meninggal. Perhitungan setahun yaitu menggunakan rumus patsarpat yaitu hari keempat dan pasaran keempat. Misalnya hari meninggal pada Jumat Kliwon, maka setahunnya jatuh pada Senin Pon setelah kematian genap satu tahun.

  1. Mendhak pindho (Peringatan dua tahun kematian)

Mendhak pindho dilakukan setelah orang yang meninggal memasuki tahun kedua. Selamatan ini bertujuan untuk menyempurnakan semua kulit, darah, daging, dan semacamnya. Saat ini yang tertinggal dari jenazah hanya tulangnya saja. Perhitungan mendhak pindho mengikuti rumus jisarlu yaitu hari kesatu dan pasaran ketiga. Misalnya, jika si jenazah meninggal pada hari Jumat Kliwon, maka peringatan dua tahunnya jatuh pada Jumat Pahing.

  1. Nyewu  (Seribu hari)

Nyewu atau seribu hari bisa dikatakan sebagai puncak selamatan kematian. Orang Jawa meyakini bahwa roh tidak akan kembali lagi ke dunia. Roh tersebut sudah benar-benar menghadap ke Tuhan. Oleh karena itu, perayaan nyewu  jauh lebih ramai jika dibandingkan selamatan sebelumnya. Rumus menentukan hari keseribu adalah nemsarma atau hari keenam dan pasaran kelima. Misalnya, jika jenazah meninggal pada hari Jumat Kliwon, maka hari ke seribu jatuh pada Rabu Wage.1

  1. Amru Al Mu’tasim dan Jerry Hendrajaya, “Tradisi Selamatan Kematian Kematian Nyatus Nyewu: Implikasi Nilai Pluralisme Islam Jawa”, Jurnal Lektur Keagamaan, 17(2), 2019, hlm. 436-440. ↩︎
Ageng Indra
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram