Salah satu ciri khas di hampir setiap kebudayaan yaitu adanya sistem untuk melacak pergerakan waktu. Ketika berbicara waktu maka kita akan berbicara penanda, batasan, pengingat, dan seterusnya. Tetapi, apa yang dimaksud dengan waktu itu sendiri? Kapan waktu mulai dianggap penting dalam kehidupan manusia? Termasuk, bagaimana waktu disepakati sebagai penanda penting dalam sistem penanggalan manusia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menuntun kita kepada satu dimensi kesadaran waktu dari setiap komunitas bangsa dengan latar budaya yang beragam.
Hingga kini, tak pernah ada definisi tunggal apa yang dimaksud dengan waktu itu sendiri. Setidaknya, asumsi ini didasari oleh fakta geografis dan budaya yang beragam dan kompleks. Karena itu, ketika kita bertanya apa itu waktu dan bagaimana ia diterima sebagai satu penanda penting dalam sistem penanggalan manusia tentu akan berbeda antara perspektif waktu orang Eropa dengan Asia dan seterusnya. Walau demikian, secara tradisional, waktu bisa kita deskripsikan sebagai suatu pengamatan terhadap gerakan periodik seperti gerakan nampak matahari melintasi langit, fase-fase bulan, atau ayunan sebuah pendulum yang bergerak bebas.
Sejak abad ke-15, manusia sudah mengenal istilah waktu (time) dan interval waktu (time interval). Definisi awal dari ukuran ini didasarkan pada fenomena astronomis yang nampak, sehingga terdapat hubungan kuat antara waktu dan pengamatan astronomis. Keduanya memainkan peran penting dalam menjaga ketepatan waktu.1 Interval waktu yang paling umum digunakan di masa kuno adalah panjang hari matahari (misalnya, dari matahari terbenam ke matahari terbenam), bulan lunar (dari pengamatan sabit pertama hingga pengamatan sabit berikutnya), dan tahun matahari, yang penting untuk penjadwalan upacara keagamaan dan kegitan pertanian. Meski begitu, mengutip Fisikawan Judah Levine,2 banyak masyarakat menggunakan interval waktu semacam ini untuk tujuan yang berbeda-beda. Setiap komunitas menghasilkan kalender untuk mengatasi kerumitan ini dengan cara tertentu, dan kalender yang dihasilkan sering kali cukup rumit.
Seperti kebanyakan masyarakat agraris, orang Mesir kuno sejak awal mengatur kalender mereka berdasarkan siklus bulan dan musim pertanian. Sebut saja bintang Spodet atau yang dalam bahasa Latin disebut Sirius, adalah satu penanda penting bagaimana orang Mesir kuno menandai Hari Tahun Baru mereka yang dihubungkan dengan banjir pertama Sungai Nil–ada pula yang dihubungkan dengan sistem edar bulan. Konsep waktu ini berguna agar mereka dapat memprediksi panen tahunan, misalnya. Ada pula yang dihubungkan dengan sistem edar bulan (lunar system). Janice Kamrin, salah seorang kurator di The Metropolitan Museum of Art yang bertanggung jawab mengawasi pekerjaan di departemen Seni Mesir Amerika Serikat itu menyebut, waktu juga terkait erat dengan konteks penguasa pemerintahan pada setiap zaman.3 Contohnya adalah kalender ptolemeus pada era kekuasaan Julius Caesar dan kalender Gregorian era kepemimpinan Paus Gregorius XIII (1572-1585).