admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Bermula dari Waktu #2

Oleh:
Ageng Indra

Menurut kalender ptolemeus, setiap tahun terdiri dari 12 bulan, dan setiap bulan terdiri dari 30 hari, plus adanya lima hari tambahan. Jadi setahun ada 365 hari. Padahal, kepastian kalender ini tidak tepat dengan fakta astronomis tentang peredaran bumi mengelilingi matahari per tahunnya, yang ternyata berlangsung tak persis 365 hari. Tetapi 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 46 detik. Baru pada 24 Februari 1582 ketika sebuah komisi yang berisi para ilmuwan dibentuk oleh Paus Gregorius XIII lantas menghasilkan kalender Gregorian. Sehingga dalam kalender ini diatur menjadi: tanggal 4 Oktober 1582 tidak langsung diikuti tanggal 5 Oktober, melainkan tanggal 15 Oktober. Sementara, karena tanggal 5 Oktober tahun 1582 jatuh pada hari kamis, maka tanggal 15 Oktober yang menggantikan 5 Oktober itu harus jatuh pada hari jumat. Jadi untuk menyesuaikan diri ada perhitungan baru, sepuluh hari menurut kalender lama terpaksa harus ditiadakan.1 Ini menjelaskan sistem perhitungan waktu yang tak pernah tunggal dan selalu terikat dengan konteks dan latar sejarah dari setiap zamannya.

Begitu pula orang Indonesia zaman dahulu yang menandai periode waktu dengan objek alam atau benda-benda langit, seperti: bintang, angin, tanah, batu, pohon, air dan lain-lain. Dalam tradisi orang Jawa kuno (Jawadwipa), misalnya, apa yang dimaksud dengan “waktu” bahkan telah ada dalam bentuk dongeng (contoh: Dongeng Prabu Watu Gunung dalam Babad Tanah Jawa), sebelum orang Jawa mengenal aksara-Jawa.2 Belakangan, beberapa mitologi Jawa baru berhasil didokumentasikan dengan baik oleh pujangga kenamaan seperti Ranggawarsita pada zaman Sunan Paku Buwana V (1829-1838 M). Pengetahuan atas mitologi Jawa  ini seiring muncul dengan aksara Jawa yang sering kita temui dalam bentuk Sloka (Seloka). 

Baru pada abad-19 aksara Jawa mulai disalin ke dalam huruf Latin, dan dialihbahasakan ke dalam beberapa bahasa seperti: Belanda, Inggris, Jawa Baru dan Indonesia. Munculnya aksara Jawa bersamaan dengan terbentuknya Penanggalan Jawa yang berisi Kawruh Palintangan (Ilmu Perbintangan atau Astrologi) Jawa kuno. Kawruh tersebut sebelumnya bersumber dari Kawruh lisan asli Jawa purba atau yang disebut dengan Pawukon. Dari Kawruh Pawukon itulah kemudian disusun Kawruh Pranta Mangsah (Ilmu Pengetahuan Penataan Musim/Iklim), yaitu Ariwara atau Dinawara, Pancawara, Umur Pranata Mangsa, dan Lampahing Pranata Mangsa

Ariwara atau Dinawara adalah nama-nama hari seminggu (7 hari) yaitu: Radite atau Dite (Minggu); Soma (Senin); Anggara (Selasa); Buda (Rebo); Respati (Kemis); Sukra (Jemuah); Sucandra atau Saniscara (Setu). Sedangkan Pancawara adalah nama hari sepasar (5 hari) kondisi nasib, yakni: Kasih (cinta), Manis (senang), Abrit (marah), Jene (bahagia), dan Cemeng (duka). Seiring berjalan waktu, pancawara ini kemudian berubah menjadi: Kasih, Manis (Legi), Abritan, Jeneyan, Cemengan. Penggabungan Dinawara dan Pancawara seperti Dite Kasih, Soma Manis, Anggara Abrit, Buda Jene, Respati Cemeng, Sukra Kasih, Saniscara Manis, Dite Abtrit, Soma Jene, Anggara Cemeng dan seterusnya hingga mencapai jumlah selapan dina (7 X 5 = 35 hari). Siklus selapan dina berlanjut atau terus berulang menjadi siklus pertandaan nama Weton (hari lahir) seseorang.3 Kini dikenal dengan sebutan Kawruh Penanggalan Jawa-Saka (Sistem Pengetahuan Perkalenderan Jawa Saka).

  1. Sindhunata and Hermanu, Pawukon (Bentara Budaya Yogyakarta, 2011), 5–9. ↩︎
  2.  Budiono Herusatoto, Mitologi Jawa: pendidikan moral dan etika tradisional, Edisi revisi, cetakan pertama (Yogyakarta: Narasi, 2019), 15. ↩︎
  3. Herusatoto, 28–29. ↩︎

Ageng Indra
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram