Manusia Jawa yang hidup hari ini, bukan sesuatu yang terbentuk tiba-tiba. Mereka yang hidup sebagai etnis Jawa era kontemporer, merupakan hasil dari bermacam proses sejarah, akulturasi budaya, hingga berbagai konflik. Berbagai literatur mengatakan, bahwa ada sesuatu yang sulit ditelisik dalam topik asal-usul manusia Jawa. Sebab kehidupan manusia Jawa terlampau berjarak ratusan ribu tahun dengan hari ini, di mana semua segi kehidupan, kegiatan, perbuatan manusia bisa didokumentasikan dengan mudah. Para peneliti mengatakan, sejak 800.000 tahun silam, Pulau Jawa telah berpenghuni dan telah memiliki kebudayaan.1 Bahkan, Prof Dr Teuku Jacob, seorang dosen Antropolog UGM, berani mengatakan Pulau Jawa didiami Homo Erectus sejak 1,8 juta tahun silam.
Beragamnya sumber penelitian bukan berarti tidak ada acuan khusus dalam penjelasan suatu tema. Hanya saja, perlu disepakati bahwa ada metode-metode tertentu untuk memilah sumber yang akan diteliti. Hal ini berguna untuk mempermudah dan memfokuskan sebuah kajian, serta menekankan agar pembaca lebih mudah memahami. Para peneliti terdahulu, terbiasa menambah kajian yang sudah ditulis oleh peneliti sebelumnya, seperti Koentjaraningrat, yang melengkapi khazanah kajian Clifford Geertz. Penelitian berjalan seiring ditemukannya sumber baru, serta analisis dan interpretasi terhadap sumber tersebut. Dalam hal ini, sumber digali lewat bermacam hal, seperti serat, legenda, artefak, penuturan lisan, hingga catatan kehidupan yang tercecer pada sebuah titimangsa.
Dalam bab ini perlu disepakati pula, luasnya sumber yang akan digunakan, akan cenderung mengulang tanpa adanya proses apa yang dimaksud sebagai manusia Jawa, yang memang sangat beragam. Ada perbedaan pada setiap regio. Bagian timur, barat, pesisir, dan seterusnya, punya corak kultur, pekerjaan, hingga filosofi yang berbeda. Perbedaan ini bisa disebabkan kondisi alam, kondisi sosial, dan masih banyak lagi.
Beragamnya manusia Jawa, dalam konteks pembuatan buku serta pembuatan batik weton, akan memperkaya khazanah literatur dan karya seni yang dihasilkan. Sebab nantinya, pada proses pembuatan batik, masing-masing seniman dan pengrajin akan menginterpretasikan apa-apa saja sesuai penghayatan atas pengalaman hidupnya. Visual yang dibentuk akan beragam, hal ini akan menjadi value batik. Masyarakat Jawa punya visual yang beragam: antara kota dan desa punya visual sendiri, antara agraris dan pesisir pun tak kalah memikat, dan di tahap ini dengan sendirinya akan bermunculan keragaman karya.
Karena alasan tersebut, perlu satu fokus pembahasan tentang manusia Jawa. Siapakah manusia Jawa? Bagaimana mereka hidup? Tentu banyak jawaban, tetapi, dalam sub bab ini kami memutuskan untuk membicarakan manusia Jawa dari masa kepemimpinan Sultan Agung dan era-era selanjutnya. Hal ini bukan bermaksud pada upaya menekankan superioritas terhadap manusia Jawa di masa tersebut, melainkan tentang relevansi buku yang pembahasannya tentang kalender Jawa, di mana perkembangan signifikan terletak pada saat masa Sultan Agung. Relevansi kondisi geografis dan sosial juga menjadi suatu pertimbangan agar lebih mendekatkan sumber kepada pembaca.