Paling tidak menurut pandangan orang Jawa sendiri, kebudayaannya tidak merupakan suatu kesatuan yang homogen. Mereka sadar akan adanya suatu keanekaragaman yang sifatnya regional, sepanjang daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keanekaragaman regional kebudayaan Jawa ini sedikit-banyak cocok dengan daerah-daerah logat bahasa Jawa, dan tampak juga dalam unsur-unsur seperti makanan, upacara-upacara, rumah-tangga, kesenian rakyat, seni suara, dan seni rupa.1
Orang Jawa terutama memiliki pandangan yang sudah pasti mengenai kebudayaan Banyumas yang daerahnya meliputi bagian barat daerah kebudayaan Jawa Mataram. Lebih khusus bagian tenggaranya dan daerah Bagelen dapat dipandang sebagai dua sub-daerah kebudayaan. Kecuali logat Banyumas yang sangat berbeda, juga masih ada sisa-sisa dari bentuk-bentuk organisasi sosial kuno, seperti perserikatan mancapat yang terdiri dari lima desa tetangga, upacara-upacara sepanjang lingkaran hidup yang bersifat khas, dan bentuk-bentuk kesenian yang menunjukkan sifat-sifat khasnya.
Kebudayaan Jawa yang hidup di kota-kota Yogyakarta dan Solo merupakan peradaban orang Jawa yang berakar dari pusat Keraton. Peradaban ini mempunyai mutu sejarah kesusasteraan yang telah ada sejak empat abad yang lalu dan memiliki kesenian yang maju berupa tari-tarian dan seni suara kraton serta yang ditandai oleh suatu kehidupan keagamaan yang sangat sinkretistik, campuran dari unsur-unsur agama Hindu, Budha, dan Islam. Hal ini terutama terjadi di kota kraton Solo, di mana berkembang berpuluh-puluh gerakan atau aliran keagamaan yang kontemporer, yang disebut aliran kebatinan. Daerah istana-istana Jawa ini sering disebut Negarigung.
Orang Jawa juga menganggap berbeda suatu kebudayaan yang terdapat si kota-kota pantai utara Pulau Jawa yang mereka sebut kebudayaan Pesisir. Kebudayaan ini meliputi daerah dari Indramayu-Cirebon di sebelah barat, sampai ke kota Gresik di sebelah timur. Penduduk daerah Pesisir ini pada umumnya memeluk suatu agama Islam puritan yang juga memengaruhi kehidupan sosial-budaya merek. Sejarah kesusastraan mereka yang sudah berumur empat abad juga menunjukkan suatu pengaruh agama Islam yang kuat.
Orang Jawa sendiri hanya membedakan antara sub-daerah Barat yang pusatnya di Cirebon, dan suatu sub-daerah Timur yang berpusat di Demak. Kebudayaan Jawa yang hidup di Surabaya dan sekitarnya dengan logat Surabaya yang khas, oleh orang Jawa sendiri biasanya dianggap sebagai suatu sub-daerah kebudayaan yang khusus. Orang Jawa yang tinggal di luar Pulau Jawa dapat juga dianggap sebagai suatu sub-variasi dari kebudayaan Jawa yang berbeda; akan tetapi perlu diperhatikan bahwa orang Jawa yang dipindahkan ke Sumatera Utara (Deli Serdang), misalnya, tetap mempertahankan kebudayaan asli mereka, dan karena itu tetap memperlihatkan sifat-sifat dari logat dan adat-istiadat daerah asalnya.