Pada abad ke-16 M dakwah Islam mulai menembus benteng-benteng istana, di mana unsur-unsur Islam mulai meresap dan mewarnai sastra budaya istana, yakni dengan berdirinya budaya Islam. Masuknya unsur-unsur Islam dalam budaya (bahasa dan sastra) Jawa menyebabkan bahasa ini mulai terpecah menjadi dua; bahasa Jawa kuno dan bahasa Jawa baru. Bahasa Jawa kuno merupakan bahasa sebelum zaman Islam Demak yang kemudian tersisih dari Jawa, namun tetap bertahan di pulau Bali. Kesultanan Demak sebagai kerajaan Jawa-Islam merupakan titik mula pertemuan antara lingkungan budaya istana yang bersifat kejawen dengan lingkungan budaya pesantren.