Di zaman serba cepat ini, ada berbagai hal yang kerap kali terasa tidak penting untuk diperhatikan. Manusia menjalani kegiatan sehari-hari dengan rutinitas yang nyaris tanpa disadari tujuan, kegunaan, dan maknanya. Bukan berarti dilupakan, hanya saja, aktivitas tersebut terkadang untuk untuk sekadar menyeimbangi derasnya arus zaman saja. Perkara di luar itu dianggap tidak penting, tiada nilainya. Bernapas, melihat, mendengar, berkata, duduk, berdiri adalah sekian banyak hal yang dilakukan sehari-hari, yang berkaitan dengan raga. Memang kegiatan tersebut begitu biasa, setidaknya sebelum manusia menganggapnya penting. Baru terasa penting bila terdapat gangguan. Misal, mata sakit hingga tidak bisa melihat dengan baik. Kegiatan tersebut baru terasa begitu ragawi.
Pokok dari pembahasan laku hidup manusia Jawa adalah tentang hal-hal yang sangat biasa, dalam bahasa Y.B. Mangunwijaya ”wadag belaka”. Namun, justru kebiasaan tersebut yang dihayati manusia Jawa. Dari hal yang sangat biasa, dan sangat sehari-hari yang dialami setiap manusia, justru di sanalah ditemukannya religiositas, keshalihan, pengabdian terhadap agama. Lewat hal-hal tersebut, manusia justru bisa menyadari, bahwa wahyu Tuhan lebih diperagakan daripada diucapkan.
Y.B. Mangunwijaya memberi pengantar dalam bukunya Ragawidya dengan pembahasan raga manusia, yang pada praktiknya dirawat dengan aktivitas seperti olahraga. Romo Mangun menganggap, sesubjektif apapun orang menilai kecantikan dan ketampanan, selera yang didambakan manusia tetap mengarah pada yang dianggap rupawan dibanding buruk rupa. Ini sehat, sebab manusia menghayati secara alami, bahwa ada keinginan mencari sesuatu yang baik, utuh, selaras, dan mencitrakan dambaan dirinya, dan dambaan tersebut tentu berkaitan dengan raga manusia.
Olahraga kian memasyarakat, tulis Romo Mangun. Itu baik. Namun sebelum olahraga resmi atau olahraga sistematis gaya internasional disebarluaskan, masyarakat tradisional telah juga berolahraga dalam banyak bentuk pekerjaan dan perjalanan sehari-hari. Tentulah sebagai keharusan mencari nafkah, belum selaku rekreasi atau pemulihan kesehatan, tetapi pengolahan raga tak pernah dianggap tidak penting.
“Maka, betapapun fana, lagi cepat kebagusan dan kecantikan tubuh kita terongrong oleh umur, betapa lekas badan termakan penyakit dan akhirnya musnah tiada berbekas sekalipun, tetapi toh, bagaimana juga ternyata, segala jasmani ini pantas dipelihara. Dengan kata lain: sangat berharga, punya arti, punya nilai untuk Tuhan Allah dan keabadian kita.”
Aktivitas seperti olahraga, menurut pandangan Romo Mangun, punya nilai yang amat tinggi. Sebab dengan aktivitas keseharian tersebutlah manusia bisa hidup dengan lebih baik, tidak hanya hidup di dunia yang amat fana, tapi juga kehidupan abadi suatu saat nanti. Bukankah raga, fisik, materi tidak punya makna yang lebih penting, apalagi berkaitan dengan rohani? Tentu ada, sebab, segala yang disebut benda, materi, dan segala yang bersangkutan dengan dunia ini, mengandung ajakan untuk lebih dalam menghayati lagi kejasmanian dan ketubuhan manusia di dalam dunia materi, yang tentulah ciptaan kecintaan Tuhan juga.
Kehidupan manusia Jawa dapat dibaca dan dipahami melalui buku Ragawidya yang terbit kali pertama pada tahun 1975. Renungan Romo Mangun, sebagai penulis sekaligus orang yang hidup di lingkungan masyarakat Jawa merupakan suatu alasan mengapa buku ini dipilih. Buku ini juga diterbitkan dengan kesadaran penuh, bahwa dikotomi raga-jiwa, jasmani-rohani tidaklah perlu. Sejatinya semua unsur tersebut merupakan satu sarana untuk menjadi kesejatian diri. Manusia Jawa, dalam pengamatan Romo Mangun, adalah mereka yang mengerti tentang pentingnya kesatuan unsur-unsur tersebut.
Buku Ragawidya, menjelaskan 18 pokok-pokok renungan kehidupan manusia. Namun, dalam buku ini hanya akan memberi 8 ringkasan dari pokok-pokok tersebut.
Sebuah mobil berwarna merah dan putih. Bagi orang yang melihat mobil itu hanya dari salah satu sisi, akan mengatakan bahwa mobil itu berwarna merah, sedang menurut orang di sisi lain mobil itu berwarna putih. Padahal itu adalah satu mobil yang sama. Begitulah manusia saat melihat. Kita tidak melihat hanya sekadar dengan mata tapi dengan seluruh kecenderungan dan watak kita yang menentukan bagaimana kita bersikap. Untuk itu, penglihatan harus dilatih. Apa yang harus dilihat? Kebaikan orang lain, misalnya, atau keburukan dan kecacatannya?
Pernah dengar kalimat, “we often hear, but rarely listen”? Kita dengar, tapi jarang mendengarkan. Bukan telinga, melainkan hati kita itulah yang sebenarnya mendengar dan mendengarkan. Untuk bisa menangkap dan mendengar firman Tuhan dengan sekian ragam suara, kita harus berani mencari keheningan. Manusia yang cuma selalu ingin ramai dan dibanjiri hiruk-pikuk kesibukan, sebenarnya menunjukkan suatu ketakutan untuk mendengar apa yang benar dan yang sejati.
Mendengar di sini, berarti menolong secara nyata, praktis, efisien. Kita perlu melatih dan mohon dari Tuhan suatu suasana jiwa yang sanggup mendengarkan Tuhan seperti Tuhan mendengarkan kita: pendengaran iman yang berubah dalam sikap dan tindak baik yang nyata, jujur terbukti.
Oleh kekuatan kata, orang bisa hanyut terpesona, terhinggapi rasa benci atau belas hati, terharu, dsb. Namun, dari semua perkataan, omongan anak kecil adalah cetusan paling murni dari dunia pengadaannya. Perhatikanlah saat anak kecil mengobrol dengan dirinya sendiri, sambil bermain seperti ia tengah menenggelamkan diri dalam dunia yang ia ciptakan. Maka, omongan anak kecil tidak pernah omong-kosong.
Pada saat jiwa meluap dan raga jasmani terlalu terbatas untuk memuat rasa, pecahlah tangis ataupun tawa. Tawa bening hanya datang dari manusia yang ikhlas menerima segala dan sesama manusia, dan terutama diri sendiri dengan benar wajar, apa adanya dengan segala kebaikan dan keburukan. Hanya manusia yang beriman, sumarah penuh dan percaya, hanya dia bisa tertawa dan menertawakan diri sendiri. Humor yang sejati mengajak manusia jangan sombong dan tahu akan kebenaran diri, tanpa tambahan palsu, tanpa pengurangan yang dibuat-buat.
Bila manusia dididik untuk peka terhadap lagu dan nyanyian, itu bukan pertama-tama karena itu memberi kenikmatan seperti misalnya burung perkutut atau kopi hitam yang menambah kelezatan hidup. Nilai nyanyian, lagu-lagu dan irama yang terhayat memiliki kemampuan untuk membentuk jiwa manusia lebih berkemanusiaan. Berulah semua itu berharga, apabila budi manusia ikut menyanyi juga, artinya berkebudayaan atau berbudi tinggi.
Bagi Romo Mangun, manusia yang manusiawi tidaklah pernah makan hanya dengan gigi lidah untuk mengisi perut. Yang makan adalah keseluruhan pribadi dan riwayat hidup serta suasana jiwanya ikut makan dan memberi arti kepada makan. Terutama kepada makan bersama.
Manusia hidup bernapas. Orang mati tidak lagi bernapas. Gejala ini begitu menyolok dengan kesan yang mendalam, sehingga semua bangsa melihat sesuatu dalam pernapasan yang dirasakan menentukan hidup-mati orang. Dan memang, dapat diamati bahwa ketika manusia tenggelam dalam air atau terkurung dalam ruang yang tertutup rapat akan tidak dapat bernapas kembali.
Bisa dimengerti mengapa napas dilihat bahkan diidentifikasikan selaku jiwa kehidupan. Dari sinilah manusia mengambil kesimpulan sederhana, bahwa manusia terdiri dari dua unsur dasar, yakni tubuh yang wadag dan jiwa alias napas tadi yang bersifat rohani, sebab tidak dapat dilihat.
Dari cara berpakaian, kita memang dapat membaca banyak dari kepribadian seseorang. Apakah ia sombong, acuh tak acuh atau tidak, kelihatan dari cara ia berpakaian, Manusia yang selaras dari dalam, seimbang, cantik hatinya lagi sederhana akan memancarkan juga suatu mode pakaian yang memberi citra atas semua tadi.
Kepalsuan kemunafikan pun tampak tersurat dalam setiap lipatan atau potongan pakaian kita. Dalam hal ini, Romo Mangun mewanti-wanti: “Semogalah pakaian tidak melawan kodratnya sendiri, justru menelanjangi kita sehingga orang lain muak dan kita dilepehkan. Pakaian kita harus melindungi kepribadian, akan tetapi tetap terbuka dalam arti memudahkan komunikasi, mengajak saling membuka pintu dan jiwa.”
Pokok-pokok tersebut di atas, sekaligus merupakan sebuah petunjuk bahwa manusia Jawa di masa lampau memaknai setiap laku kehidupan sehari-hari yang kerap kali disepelekan. Dari mulai ketika seseorang makan, minum, hingga berpakaian, memiliki pemaknaan. Kesemuanya itu berlaku sebagai patokan dasar masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Disini, muncullah suatu segi visual tertentu, yang dinilai elok dan tidak oleh seseorang. Ambil misal, ketika seseorang terlihat memakai pakaian amat terbuka, maka, baik dari segi visual atau dari segi lainnya orang Jawa akan mengidentifikasikannya pada watak-watak tertentu.
Selain di buku Ragawidya, ada buku lain yang tak kalah penting dalam memahami manusia Jawa, Wastu Citra. Keduanya ditulis oleh orang yang sama, Y.B. Mangunwijaya. Dalam buku tersebut, Romo Mangun menjelaskan, bahwa “Tiap bangunan memiliki citra sendiri-sendiri, dan mewartakan mental dan jiwa seperti apa yang dimiliki oleh pembuatnya.” Sudah barang pasti dari sana kita memahami bahwa bangunan dibuat oleh cita-cita dan nafsu tertentu. Manusia, dapat dibahasakan melalui suatu bangunan yang ia tempati.
Dalam pemahaman ini, bangunan bukan sekadar dipahami sebagai benda mati. Melainkan jiwa yang didalamnya harus dibaca melalui kesadaran ruang dan waktu. Dari bagaimana cara menghayati suatu bangunan terdiri dari olahan bambu yang kerap terasa lebih harmonis dibanding susunan batu kokoh dan keras, adalah kesadaran mengenai ruang. Sedangkan waktu, sehubungan dengan laku hidup sehari-hari tadi, adalah tentang bagaimana seseorang menyadari kapan dia berbicara, kapan ia harus menutup mulut. Kapan harus makan, memakai pakaian baru, membangun rumah, dan seterusnya.
Terakhir, pemahaman akan pokok nilai ini berguna dalam konteks proses pembuatan batik. Batik akan amat bernilai bila seseorang dapat mengetahui dirinya. Sebab, dari sana batik dikerjakan. Batik, akan bernilai bila seseorang paham tentang apa saja yang sedang atau sudah tergambar. Sebab, orang tak hanya akan menilai sesuatu dari apa yang dapat dilihat saja. Bisa dari pemaknaan, cerita, pengalaman seseorang, dan seterusnya.