admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Pendidikan dan Masyarakat

Oleh:
Chaterine Asima

Sebelum Belanda datang ke Indonesia, orang Jawa telah memiliki lembaga-lembaga pendidikan sendiri. Sejak dulu, dalam pewayangan sudah menceritakan tentang guru bijaksana yang mengumpulkan anak-anak muda sebagai cantrik di rumahnya. Mereka diajar bagaimana hidup sebagai warga masyarakat yang baik. Para cantrik tinggal bersama guru di dalam pondok. Mereka bekerja untuk hidup sendiri dan hidup sang guru. Selain itu, mereka menerima pelajaran filsafat di antara  jam-jam kerja setiap harinya. Sistem ini telah berlangsung berabad-abad dengan melebur isis ajaran-ajarannya menurut keyakinan-keyakinan agama yang ada selama zaman Hindu, Budha dan Islam sampai sekarang.

Dalam sebuah studi mengenai asal-usul pesantren oleh Brugmans, terdapat penjelasan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan khas berasal dari India yang sebagian dipengaruhi oleh orang-orang Islam. Kesimpulannya bahwa pesantren lebih tua daripada Islam yang bersumber dari tradisi penghormatan santri kepada guru, tata hubungan antara keduanya yang tidak didasarkan kepada uang, sifat pengajaran yang murni agama dan pemberian tanah oleh negara kepada guru dan pendeta.1 Gejala lain yang menunjukkan asal non-Islam pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan ialah kenyataan bahwa pesantren tidak terdapat di negara-negara Islam zaman sekarang, sedangkan lembaga-lembaga yang dapat dipersamakan dengan itu kini masih hidup terus di India yang Hindu dan di Burma serta Muangthai yang Budha.

Dewasa ini, sebagaimana halnya pada masa awal sejarah Jawa, kearifan guru dan kiai–sebutan guru dalam Islam sekarang—termasyhur memancar jauh melampaui daerah sekitarnya. Dia menarik orang-orang muda dari seluruh tanah Jawa serta pulau-pulau lainnya di Indonesia yang sangat berhasrat untuk belajar dari kearifan seorang kiai. Menurut agama Islam, ajaran-ajaran itu bisa dikategorikan ke dalam tafsir atau penafsiran Al-Qur’an; hadits, yakni kisah-kisah keagamaan yang suci dan usul-al-fiqh atau prinsip-prinsip hukum islam. Karena tiap kyai hanya mengkhususkan diri pada satu atau dua pelajaran, siswa-siswa yang ambisisus bisa berpindah dari satu kiai ke kiai lainnya. Dengan cara ini, mereka akan mendapatkan pengetahuan yang lengkap dan bervariasi dari para ahli untuk tiap pelajaran.

Apabila seseorang ingin memasuki pesantren, persyaratan-persyaratan  resmi tidak diperlukan. Seorang kyai tidak pernah menolak asalkan seorang santri serius untuk belajar dan bersedia hidup dengan syarat-syarat yang sama dengan para santri lain dalam pesantren. Selain itu, dia harus melaksanakan semua kewajiban keagamaan dan keduniawian dalam masyarakat kecil yang eksklusif. Kehidupan dalam pesantren bersifat patriarkal yang berpusat di sekitar kiai.

Di luar pesantren, anak laki-laki dan perempuan dapat memperoleh pelajaran membaca ayat-ayat suci Al–Qur’an tanpa penjelasan dalam bahasa Jawa. Mereka mendapatkannya dari orang-orang yang tahu membaca ayat-ayat Al-Qur’an tersebut. Pesertanya cukup banyak di setiap desa dan yang dipakai adalah langgar untuk pelajaran seperti ini.2

Dalam dasawarsa terakhir, organisasi-organisasi Islam juga telah mendirikan sekolah-sekolah yang murid-muridnya mendapatkan pelajaran ilmu-ilmu agama dan ilmu keduniawian. Murid-murid dapat membaca dan menulis huruf Arab, Latin serta ilmu hitung di sekolah-sekolah tersebut. Sekolah-sekolah itu disebut madrasah yang tingkat pendidikannya bisa disamakan dengan sekolah dasar.

Kecuali satu pesantren di Desa Krapyak di pinggiran Kota Yogyakarta, hampir semua pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta tetap mempertahankan organisasi dan kegiatannya secara tradisional. Terlepas dari berbagai perubahan politik, ekonomi dan sosial di lingkungan dekat mereka, pengajaran masih tetap diberikan dari kitab-kitab Arab lama yang digunakan pada masa lalu. Penafsiran atas kitab-kitab itu masih juga dilaksanakan dengan cara-cara lama. Mereka hidup bersama atas dasar persamaan dalam pesantren yang masih tetap sama seperti puluhan tahun silam. Seolah-olah masa silam dilestarikan di pesantren, seperti di langgar. Namun demikian, ada perubahan kecil yang terjadi, yakni bahwa dalam satu pesantren sejumlah kecil santri diperkenankan untuk mengikuti sekolah dasar negeri di desa pada pagi hari.

Sejak berakhirnya revolusi bersenjata, sudah ada kecenderungan kuat adanya sekularisasi pandangan hidup (Weltanschauung) masyarakat Jawa di Yogyakarta. Masalah-masalah perorangan dan sosial cenderung ditafsirkan dengan nalar yang lebih bersifat duniawi daripada bukan duniawi. Akan tetapi, pesantren telah berhasil melawan gejala ini. Namun, ada satu pengecualian ialah Pesantren Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Pesantren ini dikelola oleh tiga orang kiai muda. Mereka berasal dari satu keluarga yang semua aktif dalam Nahdlatul Ulama, yakni partai Islam konservatif di Indonesia. Lewat saluran-saluran politik, mereka berhasil mendapatkan subsidi dari pemerintah. Oleh karena itu, mereka dapat membangun sebuah gedung modern untuk kelas-kelas dan asrama para santri. Organisasinya juga telah dimodernisasi dengan mengadakan ujian masuk dalam bahasa Arab yang menjadi dasar bagi pelajaran-pelajaran agama. Akan tetapi, ciri lama tetap bertahan, yaitu tak seorang pelamar pun yang ditolak. Ujian masuk tidak dimaksudkan untuk menyaring para calon, tapi hanya untuk menentukan tingkat pengetahuan. Maka, pelajaran bahasa Arab bisa disesuaikan. Sejarah, ilmu bumi, bahasa Inggris dan pelajaran-pelajaran sekuler lainnya dimaksudkan dalam kurikulum. Pelajaran ini dilakukan oleh orang-orang yang bukan kiai dari luar pesantren. 

Kecenderungan sekularisasi telah berkembang lebih kuat dalam madrasah-madrasah. Di sana, murid-murid menghendaki lebih banyak pelajaran sekuler untuk membagi kurikulum dalam sekolah-sekolah  dasar negeri. Pemerintah memberikan sedikit subsidi untuk pendidikan sekuler di madrasah-madrasah. Jumlah murid madrasah yang juga mengikuti sekolah-sekolah umum semakin meningkat. Para guru yang biasa memberikan pelajaran-pelajaran agama umumnya tidak meminta bayaran. Mereka memandang tugasnya sebagai suatu sumbangan demi keselamatan manusia. Akan tetapi, guru untuk palajaran-pelajaran sekuler yang bersedia tanpa bayaran tidak banyak. 

Di Desa Wonokromo Kabupaten Bantul, dua dari tiga madrasah telah ditutup sejak 1952. Desa ini dikenal sebagai tempat masyarakat Islam konservatif yang kuat. Madrasah-madrasah ditutup karena guru-gurunya mengajar di luar desa untuk mencari nafkah. Dari satu kasus ini, kita tak bisa menyimpulkan bahwa madrasah, pesantren dan langgar sebagai lembaga pendidikan akan menyerah kepada sekolah-sekolah umum. Akan tetapi, masyarakat Indonesia memiliki hasrat akan pendidikan sekuler. Pada umumnya, angkatan muda dari pendidikan yang murni agama sangat tertarik. Di Indonesia pendidikan senantiasa dipandang sebagai sarana utama menuju perbaikan. Pada zaman dulu, masyarakat memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan di alam baka, tapi kini tak banyak lagi yang mempunyai pandangan demikian. Pelajaran agama berangsur-angsur berkurang, kecuali kalau disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan sekuler yang menjadi ciri pemuda Indonesia sejak kemerdekaan.

Meskipun ada beberapa perubahan, seperti disebutkan di atas, pesantren tetap mempertahankan mata pelajaran klasik, salah satunya adalah pelajaran ilmu falak. Ilmu ini memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan umat Islam. Dengan mempelajari ilmu falak umat Islam dapat memastikan kemana arah kiblat suatu tempat di permukaan Bumi, memastikan awal waktu salat, hingga melakukan Rukyat al-Hilal.

Ilmu falak tidak dilarang dalam Islam meskipun menggunakan metode yang bersifat nisbi, bisa terjadi atau tidak. Pada prinsipnya, semua literasi pengetahuan dan wawasan, Islam tidak melarang untuk mempelajarinya bahkan menganjurkan untuk menguasainya jika isinya mengandung kemaslahatan. Hanya saja selama mempelajarinya keyakinan bahwa semua yang terjadi atas kehendak Tuhan tidak bisa digoyahkan.

Sejak perkembangannya di Indonesia, ilmu falak sangat erat kaitannya dengan dunia pesantren. Dengan berdirinya  perguruan tinggi Islam, barulah kemudian terjadi transformasi. Ilmu falak mulai menjadi sebuah mata kuliah di salah satu program studi dalam Fakultas Syariah.3 Para ulama dan kiai memilih pesantren sebagai wadah untuk mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para santri. Pembelajarannya pun bervariasi, ada yang diajarkan kepada semua santri, ada pula yang hanya diajarkan kepada santri-santri tertentu saja yang dianggap sudah tinggi tingkatan mengajinya. 

Di kalangan pesantren sendiri ilmu falak mulai kurang diminati karena masih dianggap rumit dan sukar dipelajari oleh sebagian santri. Selain sukar dipelajari, ilmu falak juga kalah favorit jika dibandingkan dengan peminatan lain seperti hadits, tahfidh al-Qur’an, dan ilmu tafsir. Sehingga kaderisasi ilmu falak menjadi agak tersendat dan ilmu falak mengalami stagnansi. Padahal sesungguhnya ilmu falak sangat penting untuk dipelajari, bukan saja karena berkaitan dengan keperluan ibadah, tetapi lebih dari itu studi dibidang ilmu falak memiliki makna yang lebih penting dalam mengapresiasi peradaban Islam.4

Sampai sini, kita dapat memahami tentang perubahan pendidikan masyarakat Jawa di era terkini. Salah satu yang amat penting adalah pendidikan pesantren yang didalamnya tidak hanya belajar mengenai pengetahuan Aqidah, melainkan juga pemahaman tentang dunia alam seisinya. Pendidikan pesantren juga tak jauh dari pelajaran memahami waktu dengan segala macam kegunaannya, dari sifatnya harian seperti salat, sampai ibadah tahunan seperti idul fitri, penentuan bulan ramadhan dan seterusnya, dan sebagainya.

  1. Lihat K.Neys, Westerse Acculturisat ie en Oosters Volksonderwijs (Akulturasi Barat dan Pendidikan Rakyat Timur), disertasi doktor, Universitas Negeri Utrecht, Negeri Belanda, 17 Agustus1945; Leiden. Percetakan “Lucter et Emergo). Hlm. 226. ↩︎
  2. Cf. Snouck Hurgronye, Verspreide Geschriften (“Kumpulan Tulisan”; Bonn dan Leipzig; Koert Schroeder,1923–1927) IV. ↩︎
  3. http://iainukebumen.ac.id/pentingnya-astronomi-ilmu-falaq-bagi-pengetahuan-modern/ Diakses pada 09 Februari 2016. ↩︎
  4. Slamet Hambali. ilmu falak ↩︎

Chaterine Asima
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram