Selama ini, pendapat yang sering dipercaya banyak orang mengenai “pencipta” kalender Jawa adalah Sultan Agung. Perumusan Kalender Jawa diketahui dari pendapat Pujangga Jawa R. Ng. Ranggawarsita melalui karyanya yang berjudul serat Widya Pradhana. Widya memiliki arti kawruh (ilmu) dan Pradhana adalah pangarep (pemimpin). Secara umum, serat ini membahas mengenai ilmu perbintangan dalam Kalender Jawa, yang termasuk di dalamnya ada solar system (peredaran matahari) dan lunar system (peredaran bulan).1
Dalam karyanya yang berjudul serat Widya Pradhana, Ranggawarsita menyatakan Kalender Jawa Islam telah ada sejak masa kerajaan Demak. Kalender ini merupakan buah pemikiran dari Sunan Giri II yang dirumuskan pada tahun 931 H, 1400 Saka, dan 1443 Jawa.
Sunan Giri II merupakan putra dari Sunan Giri, salah satu anggota Walisongo. Nama asli Sunan Giri adalah Raden Paku. Adapun nama Giri dinisbatkan dari kata bukit, karena ia mendirikan pesantren di puncak bukit. Sementara itu, Sunan Giri II memiliki nama asli Sunan Dalem. Ia meneruskan kepemimpinan ayahnya di Giri kedhaton pada tahun 1506. Masa pemerintahannya bersamaan dengan kekuasaan Sultan Trenggono di Demak. Sunan Giri II wafat sekitar tahun 1545 atau 1546.
Wilayah kekuasaan Sunan Giri bernama Giri kedhaton yang pada awalnya adalah sebuah pesantren. Giri ditetapkan sebagai tanah perdikan oleh Raden Patah, raja Demak pertama pada tahun 1481. Sebagai wilayah yang otonom, Giri kedhaton memiliki fungsi penting dalam bidang politik dan bidang keagamaan sebagai pusat keislaman di Jawa.
Sunan Giri II memulai kalender Jawa pada tahun 1443 dengan awal hari Sabtu Pahing. Nama-nama bulan di kalender ini masih menggunakan bahasa Arab seperti yang ada di bawah:
Tidak hanya berkaitan dengan nama bulan, Sunan Giri II juga merumuskan kalender dengan siklus 8 tahunan, yaitu Kurup Alip, He, Je, Jim, Dal, Be, Wawu, dan Jim. Agar setiap tahun awal bulan Muharram jatuh pada hari dan pasaran yang sama, maka dirumuskan sistem Kurup yang disebut Naktu atau Neptu. Dalam sistem ini, jumlah neptu hari ada tujuh dan jumlah neptu pasaran ada lima.