Simbol-simbol dan arti-arti tertentu selalu tersemat dalam penamaan sesuatu. Bahkan, terdapat satu bidang keilmuan yang mempelajari tentang nama-nama. Bidang tersebut bernama onomastika. Salah satu cabang dalam onomastika yang sering didengar publik adalah toponimi atau penamaan sebuah daerah. Terdapat ilmu toponimi yang mempelajari tentang penamaan sebuah daerah.
Penamaan yang ada di kalender Jawa memiliki banyak sekali arti di baliknya. Bahkan, simbol-simbol yang melekat pada nama-nama tersebut menjadikan satu bentuk interpretasi tersendiri untuk para pembacanya. Dalam kitab Betaljemur Adammakna karya KPH. Cokroningrat, disebutkan ada beberapa simbol dalam sebuah hari atau pasaran. Di antaranya adalah unsur alam, neptu, burung, tanaman, air, dan arah.
Unsur alam menjadi unsur utama dalam weton, terkhusus padinan atau saptawara. Hal ini tercermin dari penamaannya. Di bab sebelumnya, sudah dijelaskan bagaimana pengaruh Kalender Saka pada penyusunan Kalender Jawa. Dalam siklus 7 hari (saptawara), unsur-unsur alam berupa benda langit mendasari penamaan dan simbolisasi dari hari-hari dalam satu minggu. Namun, terdapat beberapa penyesuaian dari simbolisasi aslinya. Di Jawa, simbolisasi berupa unsur-unsur alam dalam padinan adalah matahari, bulan, api, tanah, angin, bintang, dan air. Sementara simbol unsur alam untuk pasaran adalah api, angin, tanah, keseimbangan, dan air.
Simbolisasi lain yang erat dengan weton adalah tanaman. Dalam kaitannya dengan masyarakat Jawa, tanaman-tanaman yang dijadikan simbol merupakan tanaman yang memiliki fungsi penting dalam kebudayaan Jawa, tanaman-tanaman tersebut antara lain beringin, kunir, tangan, nagasari, secang, arang, bidara, putih, ingas, kemuning, telasih, dan gurdha.
Simbolisasi burung juga menunjukkan kedekatan masyarakat Jawa dengan binatang. Dalam hal ini burung-burung memiliki filosofi yang erat dengan gerak hidup masyarakat jawa. Di antara burung-burung yang menjadi simbol dalam weton adalah Burung hantu, kuniran, bubut, ulung/elang, perkutut, betet, wangan, engkuk, kepodang, gagak, gogik, dan kuntul.
Neptu juga menjadi salah satu simbol dalam weton. Neptu yang sudah dibahas di bab-bab sebelumnya merupakan satu unsur penting yang menandai kedekatan masyarakat Jawa dengan angka. Angka neptu yang disimbolkan di masing-masing hari atau pasaran dapat dikombinasikan dengan perhitungan-perhitungan tertentu untuk menentukan keputusan. Peristiwa penting seperti pernikahan, pekerjaan, dan lain sebagainya biasanya dihitung juga melalui perhitungan neptu ini.
Sebagai simbol kehidupan, air juga menjadi simbol penting dalam weton. Masyarakat Jawa dalam hal ini menyantumkan berbagai jenis air yang dekat dengan kehidupannya. Ada air Laut, Masak, Biru Amis, Hujan, Galuga, Mangsi, Leri, Darah, Manis/Sarkara, Nila, Madu, dan Santan yang menjadi simbol-simbol dalam weton.
Unsur lainnya yang ada dalam satu hari tertentu adalah arah. Arah di sini dijelaskan berupa arah mata angin. Deskripsi Arah lebih dekat digunakan dalam pasaran. Hal ini dikarenakan arah pasar yang akan dituju biasanya digunakan sebagai catatan pedagang atau pembeli untuk datang ke lokasi-lokasi tertentu. Dalam pasaran terdapat 4 arah mata angin dan satu pusat, sementara di padinan atau saptawara, terdapat arah Timur Laut, Barat Laut, Barat Daya, Barat, Tenggara, Utara, dan Selatan. Arah-arah dalam padinan ini mirip dengan pengider-ider dalam budaya Bali dengan beberapa perbedaan arah.