Sama seperti hari-hari lainnya, Rabu juga memiliki penggambaran simbol tanaman weton. Dalam pembacaan weton masyarakat Jawa, hari Rabu digambarkan memiliki weton tanaman nagasari. Tumbuhan yang memiliki nama latin Mesua ferrea ini memiliki sejuta manfaat. Banyak potensi yang dimiliki pohon nagasari yang membuatnya bisa bernilai tinggi. Gara-gara ini, nagasari pun menjadi komoditas tersendiri. Tumbuhan ini juga dikenal sebagai Ceylon ironwood, Indian rose chestnut, dan Cobra's saffron. Mulai dari Asia Selatan hingga Asia Tenggara, keberadaan nagasari banyak dijumpai. Bahkan, di Sri Lanka, pohon dari tumbuhan ini menjadi pohon nasional negara tersebut.
Dilihat dari ciri-cirinya, pohon nagasari bisa mencapai tinggi 30 meter. Untuk lebar pangkal batangnya bisa sesar 2 meter. Untuk daunnya sendiri, nagasari memiliki ciri khas daunnya tunggal, sempit, dan memanjang. Warna daunnya pun hijau gelap dan bagian bawahnya agak keputihan. Sedangkan, tanaman ini juga memiliki buang yang berdiameter 4-7 sentimeter dengan empat petal serta memiliki benang sari di tengah atau kelopaknya
Bagi masyarakat Jawa, tanaman ini sebetulnya memiliki nama lain, yakni gandhek. Dalam tradisi keraton di Jawa, nama gandhek memiliki arti bentara. Ada berbagai nilai filosofis yang terkandung dari tanaman nagasari. Pohon dari tanaman ini diyakini sebagai kayu bertuah yang bermanfaat untuk keselamatan, kewibawaan, pengobatan, perlindungan terhadap jin jahat, hingga antitenung (Iman Budhi Santosa: 2017).
Dengan karakteristik tadi, pojon nogosari juga memiliki manfaat lainnya. Biasanya, pohon ini bakal digunakan sebagai perabot rumah seperti mebel, lantai, hingga berbagai perkakas di dalam rumah. Di beberapa negara, saking kuatnya kayu nagasari, juga digunakan sebagai bantalan rel kereta.
Untuk buahnya, nogosari sendiri juga bisa dimakan. Bahkan biji yang ada di dalam buah juga mengandung lemak yang berguna untuk memasak. Dalam hal kesehatan, biji buah nagasari juga mampu untuk dijadikan obat panas, luka, hingga bengkak. Sementara, untuk bunga nagasari juga tak kalah bermanfaat. Khasiat yang ada di dalam bunga ini bisa digunakan untuk obat antidiare, aromatik, ekspektoran, dan gangguan jiwa. Beberapa orang percaya bahwa kandungan dari bunga ini bisa membuat jiwa makin tenang. Tak hanya itu, bunga ini biasanya juga direbus dan airnya diminum oleh para perempuan selepas melahirkan. Kandungan dalam bunga ini menurut beberapa sumber menunjukkan adanya kandungan antibakteri.
Berbagai khasiat alamiah dari nagasari tak berhenti di situ saja. Salah satu yang bermanfaat dari bagian tumbuhan tersebut adalah benang sarinya. Ramuan dari bahan benang sari nagasari ini diketahui bisa sebagai penawar panas dan penyejuk badan. Selain itu, getah yang ada di pohon nagasari juga dianggap bisa melindungi luka.
Sementara itu, untuk daunnya sendiri juga kaya akan manfaat. Daun nagasari juga kerap digunakan sebagai ramuan tradisional. Salah satunya adalah untuk mengatasi keluhan kencing. Bahkan, dari seduhan daun nagasari yang direbus ini dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit terutama berkaitan dengan suhu badan.
Itulah beragam manfaat dan khasiat dari tumbuhan nagasari. Sayangnya, keberadaan tanaman nagasari ini makin jarang ditemui. Untuk bisa menemukan tanaman ini, biasanya masyarakat Jawa menanamnya di sekitar area makam. Hal ini juga bukan tanpa sebab begitu saja. Orang-orang Jawa sejak zaman dahulu sudah menganggap bahwa tumbuhan nagasari ini merupakan pohon pusaka. Lalu, area pemakaman, termasuk makam raja-raja, dipilih lantaran sebagai tempat yang aman untuk bisa tumbuh. Orang yang mau berbuat aneh-aneh terhadap pohon tersebut bakal merasa takut. lantara posisi di tempat keramat.
Pahing digambarkan dengan tanaman ingas atau dalam bahasa Indonesia disebut rengas. Tumbuhan ini merupakan salah satu anggota dari genus Gluta renghas yang tersebar luas. Namun, di Jawa sendiri, sayangnya pohon ini makin langka ditemukan. Beriringan dengan namanya yang jarang disebutkan, keberadaan dari tanaman ingas ini juga kian jarang ditemukan.
Jika dilihat dari ciri-cirinya, ingas merupakan salah satu pohon dengan ukuran sedang hingga besar. Ketinggian dari pohon ingas bisa mencapai 50 meter. Bahkan, bisa dibilang pohon ingas sendiri adalah pohon raksasa yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Tumbuhan ingas biasanya bakal tumbuh berkelompok seperti di hutan-hutan atau semak belukar dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Kemudian, untuk daunnya, ingas memiliki ciri-ciri tersusun dalam bentuk spiral. Daun ini juga tunggal dan bertepi rata dan tidak memiliki daun penumpu.
Meski pohon ingas bisa berukuran besar dan cukup bagus, kayu dari ingas dinilai jarang dimanfaatkan. Hal ini lantaran merujuk pada pohon ingas memiliki getah beracun yang cukup berbahaya bagi manusia. Jika terkena kulit, getah ini bisa menyebabkan radang pada kulit dan iritasi hebat. Gara-gara saking berbahayanya getah ingas ini, masyarakat tradisional dikabarkan juga tidak berani berteduh di bawah pohon ingas. Hal ini juga karena ada kepercayaan bahwa pohon ingas bisa mengeluarkan uap yang berbahaya bagi keselamatan manusia.
Bagi masyarakat Jawa, pohon ingas memang ditakuti. Iman Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Kisah Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017), menjelaskan bahwa banyak kisah yang menceritakan tentang kayu ingas yang dilemparkan ke sungai. Akhirnya, gara-gara ini, banyak orang-orang yang mandi di hilir bakal menderita peradangan kulit yang tak disangka-sangka. Selain itu, getah dari ingas sendiri juga pernah dijadikan sebagai salah satu racun yang dipasang di ujung tombak atau panah dalam peperangan di Tanah Jawa.
Burung ulung atau elang jawa menjadi gambaran dari weton hari Rabu. Hewan dengan nama latin Nisaetus bartelsi ini menjadi salah satu spesies elang yang memiliki ukuran sedang dari famili Accipitridae dan genus Nisaetus. Burung endemik di Pulau Jawa ini memang terkenal. Bahkan, elang jawa juga dianggap identik dengan makhluk mitologi sejak masa Hindu-Budha. Selain di Jawa, elang jawa juga bisa ditemukan di Pulau Bali. Umumnya, spesies ini memilih hutan primer yang tergolong masih lebat.
Dilihat dari ciri-cirinya, elang jawa memiliki panjang tubuh mencapai 60-70 sentimeter. Kemudian, untuk kepalanya berwarna cokelat tua dengan jambul hitam panjang. Ini menjadi salah satu ciri khas dari elang jawa. Warna cokelat mendominasi bulunya. Di bagian punggung dan sayap atas warna cokelat gelap dengan tepian kuning pucat. Di dada, burung ini memiliki setrip cokelat tua. Ketika terbang, elang jawa bakal mengepakan sayapnya membulat dengan pangkal menyempit. Posisi terbang burung ini juga dianggap mirip dengan elang brontok. Lalu, saat bertengger di pohon, burung ini kadang sendiri dan kadang-kadang juga bersama dengan pasangannya.
Selang jawa suka dengan ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau. Dataran rendah maupun tinggi juga disukai oleh spesies ini. Paling tidak, elang jawa bisa terbang mencapai ketinggian 2.200 hingga 3.000 meter dari permukaan laut.
Adapun ketika sedang berburu mangsa, elang memilih bertengger di ranting-ranting pohon untuk mengintai. Tetapi, tak jarang juga burung ini mengintai sewaktu terbang. Beberapa mangsa yang kerap jadi incaran elang jawa seperti berbagai jenis reptil, burung lain seperti punai, walik, hingga ayam. Beberapa mamalia seperti bajing, musang, dan tupai bisa menjadi incaran elang jawa.
Biasanya, masa bertelur elang jawa tercatat mulai dari Januari hingga Juni. Burung ini bakal membikin sarangnya di ranting-ranting pohon yang disusun tinggi. Elang jawa biasanya memilih pohon yang jenisnya tinggi, seperti rasamala, pasang, tusam, puspa, hingga ki sireum. Sayangnya, dewasa ini status dari elang jawa dalam keadaan genting. Persebarannya makin berkurang dan terancam mengalami kepunahan. Gara-gara ini, pemerintah Indonesia menetapkan hewan ini sebagai hewan yang dilindungi undang-undang.
Dalam beberapa kepercayaan, elang dikaitkan sebagai burung yang memiliki filosofi sifatnya yang kuat dan penglihatan tajam. Hal ini bisa menjadi representasi bahwa hewan ini berkaitan dengan sosok yang semangat belajar dan mampu fokus. Selain itu, elang juga disimbolkan sebagai hewan yang mandiri. Adanya sifat inilah yang kemudian bisa ditiru.
Pada pasaran Pahing, digambarkan burung engkuk jawa atau juga dikenal sebagai takur ungkut-ungkut. Burung yang memiliki nama latin Psilopogon haemacephalus ini tersebar luas di beberapa wilayah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Di Indonesia, beberapa pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara terdapat burung ini.
Salah satu yang menarik dari burung takur ungkut-ungkut ini adalah memiliki tubuh kecil dan menawan. Ciri-cirinya seperti keberadaan warna hijau pada hampir seluruh bulunya. Warna merah menjadi ciri khas dari jambul atau bulu di atas paruhnya. Sedangkan, warna kuning ada di bawah pelatuknya dan menghiasi bulu di sekitar area mata hampir berbentuk lingkaran. Lalu, warna merah ada di bagian leher dan kakinya. Secara ukuran, burung engkuk jawa ini memiliki panjang 15-17 sentimeter dan berat kurang lebih 30-52 gram.
Sebetulnya, engkuk jawa ini juga mirip dengan burung pelatuk. Kesamaan dengan burung tersebut adalah sama-sama tinggal di dalam pohon. Baik engkuk jawa dan pelatuk sama-sama melubangi pohon yang bakal dijadikan sebagai sarangnya. Dengan melihat tempat sarangnya itu, habitat dari engkuk jawa sudah bisa ditebak. Hampir di seluruh wilayah tempatnya ditemukan, takur ungkut-ungkut mendiami wilayah perkebunan dan hutan. Untuk membuat sarang, burung ini tak bisa sembarangan dalam memilih pohon. Biasanya, spesies ini bakal mencari pohon yang sudah kering karena bakal mudah untuk dilubangi. Takur ungkut-ungkut banyak ditemukan di ketinggian di bawah 1.500 meter dari permukaan laut.
Kebiasaan dari burung takur ungkut-ungkut yakni kerap menyendiri. Jika berkelompok, maka burung ini bakal berkumpul dengan kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, burung takur ungkut-ungkut bakal mencari makan buah-buahan, meski kadang juga burung ini biasanya makan serangga kecil seperti rayap.
Selain warnanya yang menarik, suara dari burung takur ungkut-ungkut ini sangatlah khas, yakni "tuk, tuk, tuk...". Dengan bunyi seperti itu, biasanya burung ini bakal terus mengeluarkan suara hingga beberapa menit. Untuk menemukan burung ini. Biasanya takur ungkut-ungkut bisa dijumpai di pedesaan dan perkotaan yang masih memiliki ruang terbuka hijau.
Keberadaan burung takur ungkut-ungkut sangat penting. Hal ini berkaitan dengan eksistensinya yang bisa menjadi penyeimbang ekosistem. Salah satu keuntungan dari adanya burung ini adalah ia mampu menjadi penyebar biji. Penyebaran biji-bijian ini berasal dari sisa makanannya.
Sementara itu, menurut catatan primbon Jawa, burung engkuk atau takur ungkut-ungkut menjadi pertanda tersendiri. Hal ini terutama ketika burung tersebut berada di sekitaran rumah, maka kehadirannya bisa membawa isyarat. Salah satu pertanda dari kehadiran burung engkuk jawa ini adalah bakal membawa keberuntungan bagi si pemilik rumah.