admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Kamis Pahing

Oleh:
Delima Purnama Sari

Tanaman Secang

Tanaman secang atau sepang menjadi gambaran dari weton hari Kamis. Tumbuhan bernama latin Biancaea sappan ini merupakan perdu yang bisa dimanfaatkan kulit kayu dan kayunya sebagai komoditas perdagangan rempah. Dalam hal persebarannya, tumbuhan ini tersebar di banyak tempat. Mulai dari Asia Tenggara, Asia Selatan, hingga kawasan Pasifik. Di Indonesia, banyak daerah yang ditumbuhi tanaman secang.

Sayangnya, asal-usul dari tumbuhan secang tidak diketahui secara pasti. Beberapa sumber menyebut bahwa secang berasal dari wilayah India tengah. Tetapi, persebaran tumbuhan ini bisa tumbuh di banyak tempat. Hingga dewasa ini, secang masih tergolong tumbuhan yang mudah ditemukan. Apalagi, tumbuhan ini juga sudah dibudidayakan oleh banyak orang. Tumbuhan secara diketahui mudah tumbuh di lahan-lahan yang berlereng, tanah berliat, kapur, hingga tanah berpasir. Selain itu, secang tidak bakal tahan hidup di area yang memiliki penggenangan. Masyarakat biasanya menanam tumbuhan ini juga dijadikan sebagai pagar rumah.

Dari ciri-cirinya, secang memiliki pohon dengan ketinggian antara 4-10 meter. Batang dari tumbuhan ini memiliki ciri yang khas, yakni adanya tonjolan-tonjolan seperti duri. Keberadaan tonjolan seperti duri ini juga ada di bagian rantingnya. Sementara itu, untuk daunnya sendiri berbentuk sirip ganda yang berwarna hijau. Tiap tangkai daunnya terdapat 10-20 pasang tulang daun yang saling berhadap-hadapan.

Ada berbagai manfaat dari tumbuhan secang ini. Secara tradisional, potongan kayu secara kerap digunakan sebagai campuran minuman. Khusus seperti di Jawa misalnya, potongan kayu secang digunakan sebagai salah satu bahan jamu. Di sisi lain, pohon secang ini juga menjadi salah satu bahan pembuatan minuman penyegar khas Yogyakarta, seperti wedang secang dan wedang uwuh.

Selain sebagai bahan minuman penyegar dan jamu, secang juga diketahui bermanfaat sebagai penghasil zat warna untuk makanan, pakaian, anyam-anyaman. Dari segi kesehatan, tanaman secang dipercaya sejak lama mampu memberikan khasiat bagi tubuh manusia. Khasiat tersebut mulai dari melancarkan peredaran darah, melarutkan penggumpalan darah, mengurangi pembengkakan, meredakan nyeri, hingga bisa menghentikan pendarahan. 

Berbagai sumber lembaga kesehatan juga menyebut bahwa secang ini memang bagus untuk kesehatan. Apalagi, jika kayu ini dicampur dengan berbagai rempah-rempah. Terdapat beragam senyawa di dalam kayu secang yang mampu melawan bakteri hingga menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu, kayu secang yang bersifat antioksidan ini juga bisa berfungsi untuk mengatasi jerawat, menghentikan diare, mencegah kerusakan sel, hingga mampu mengontrol gula darah.

Tanaman Ingas

Pahing digambarkan dengan tanaman ingas atau dalam bahasa Indonesia disebut rengas. Tumbuhan ini merupakan salah satu anggota dari genus Gluta renghas yang tersebar luas. Namun, di Jawa sendiri, sayangnya pohon ini makin langka ditemukan. Beriringan dengan namanya yang jarang disebutkan, keberadaan dari tanaman ingas ini juga kian jarang ditemukan.

Jika dilihat dari ciri-cirinya, ingas merupakan salah satu pohon dengan ukuran sedang hingga besar. Ketinggian dari pohon ingas bisa mencapai 50 meter. Bahkan, bisa dibilang pohon ingas sendiri adalah pohon raksasa yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Tumbuhan ingas biasanya bakal tumbuh berkelompok seperti di hutan-hutan atau semak belukar dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Kemudian, untuk daunnya, ingas memiliki ciri-ciri tersusun dalam bentuk spiral. Daun ini juga tunggal dan bertepi rata dan tidak memiliki daun penumpu.

Meski pohon ingas bisa berukuran besar dan cukup bagus, kayu dari ingas dinilai jarang dimanfaatkan. Hal ini lantaran merujuk pada pohon ingas memiliki getah beracun yang cukup berbahaya bagi manusia. Jika terkena kulit, getah ini bisa menyebabkan radang pada kulit dan iritasi hebat. Gara-gara saking berbahayanya getah ingas ini, masyarakat tradisional dikabarkan juga tidak berani berteduh di bawah pohon ingas. Hal ini juga karena ada kepercayaan bahwa pohon ingas bisa mengeluarkan uap yang berbahaya bagi keselamatan manusia.

Bagi masyarakat Jawa, pohon ingas memang ditakuti. Iman Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Kisah Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017), menjelaskan bahwa banyak kisah yang menceritakan tentang kayu ingas yang dilemparkan ke sungai. Akhirnya, gara-gara ini, banyak orang-orang yang mandi di hilir bakal menderita peradangan kulit yang tak disangka-sangka. Selain itu, getah dari ingas sendiri juga pernah dijadikan sebagai salah satu racun yang dipasang di ujung tombak atau panah dalam peperangan di Tanah Jawa.

Burung Perkutut

Hari Kamis dalam weton Jawa digambarkan sebagai burung perkutut jawa. Hewan dengan nama latin Geopelia striata ini merupakan spesies burung yang masuk dalam suku Columbidae, dari genus Geopelia. Columbidae sendiri merupakan suku atau kelompok burung yang tersebar di seluruh dunia. Kelompok ini umumnya memiliki ciri tubuh ukuran kecil dan besar yang bulat. Burung yang masuk dalam spesies ini umumnya adalah pemakan biji-bijian dan buah.

Perkutut memang terdapat berbagai jenis. Salah satu yang terkenal ini adalah perkutut jawa. Perkutut jawa ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Habitat burung perkutut jawa ini lebih memilih tinggal di lingkungan yang terbuka, seperti ladang, pesisir, taman, perkebunan, dan tepi hutan dengan ketinggian kurang dari 900 meter dari permukaan laut.

Dari segi ukuran, perkutut jawa memiliki tubuh sebesar 20-22 sentimeter. Burung ini pun memiliki tubuh ramping dan berekor panjan. Salah satu ciri-ciri dari burung ini adalah memiliki kepala yang berwarna abu-abu dengan leher dan bagian sisi bergaris halus. Dengan tubuhnya yang ramping, perkutut jawa mencari makan di permukaan tanah. Burung ini termasuk tipe yang kerap berkumpul. Momen berkumpul ini biasanya ketika mereka sedang minum di sumber air.

Perkutut sendiri tergolong hewan yang mudah dipelihara. Bahkan, di pasar hewan, keberadaan hewan ini masih diperjualbelikan. Para pemilik burung perkutut ini biasanya juga turut memperlombakan burung. Salah satu yang dilombakan adalah ciri khas suaranya. Suaranya "kur-rr-rr-kuk, kuk" memang sangat khas. 

Selain memiliki kicauan yang indah, perkutut jawa dalam khazanah kebudayaan Jawa juga memiliki makna tersendiri. Burung ini dipercayai memiliki makna simbolis, yakni dianggap sebagai salah satu syarat dalam sapta brata lelaki sejati. Selain itu, burung perkutut juga dianggap memiliki titisan darah gaib dan dihubungkan dengan pengaruh baik. Pengaruh barik ini seperti membawa keberuntungan, ketentraman rumah tangga, dan lain sebagainya. Perkutut memang istimewa sejak dulu. Bahkan, para raja di masa lampau juga memelihara burung ini lantaran sebagai simbol kejayaan dan kemakmuran.

Burung Engkuk Jawa

Pada pasaran Pahing, digambarkan burung engkuk jawa atau juga dikenal sebagai takur ungkut-ungkut. Burung yang memiliki nama latin Psilopogon haemacephalus ini tersebar luas di beberapa wilayah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Di Indonesia, beberapa pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara terdapat burung ini.

Salah satu yang menarik dari burung takur ungkut-ungkut ini adalah memiliki tubuh kecil dan menawan. Ciri-cirinya seperti keberadaan warna hijau pada hampir seluruh bulunya. Warna merah menjadi ciri khas dari jambul atau bulu di atas paruhnya. Sedangkan, warna kuning ada di bawah pelatuknya dan menghiasi bulu di sekitar area mata hampir berbentuk lingkaran. Lalu, warna merah ada di bagian leher dan kakinya. Secara ukuran, burung engkuk jawa ini memiliki panjang 15-17 sentimeter dan berat kurang lebih 30-52 gram.

Sebetulnya, engkuk jawa ini juga mirip dengan burung pelatuk. Kesamaan dengan burung tersebut adalah sama-sama tinggal di dalam pohon. Baik engkuk jawa dan pelatuk sama-sama melubangi pohon yang bakal dijadikan sebagai sarangnya. Dengan melihat tempat sarangnya itu, habitat dari engkuk jawa sudah bisa ditebak. Hampir di seluruh wilayah tempatnya ditemukan, takur ungkut-ungkut mendiami wilayah perkebunan dan hutan. Untuk membuat sarang, burung ini tak bisa sembarangan dalam memilih pohon. Biasanya, spesies ini bakal mencari pohon yang sudah kering karena bakal mudah untuk dilubangi. Takur ungkut-ungkut banyak ditemukan di ketinggian di bawah 1.500 meter dari permukaan laut.

Kebiasaan dari burung takur ungkut-ungkut yakni kerap menyendiri. Jika berkelompok, maka burung ini bakal berkumpul dengan kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, burung takur ungkut-ungkut bakal mencari makan buah-buahan, meski kadang juga burung ini biasanya makan serangga kecil seperti rayap.

Selain warnanya yang menarik, suara dari burung takur ungkut-ungkut ini sangatlah khas, yakni "tuk, tuk, tuk...". Dengan bunyi seperti itu, biasanya burung ini bakal terus mengeluarkan suara hingga beberapa menit. Untuk menemukan burung ini. Biasanya takur ungkut-ungkut bisa dijumpai di pedesaan dan perkotaan yang masih memiliki ruang terbuka hijau.

Keberadaan burung takur ungkut-ungkut sangat penting. Hal ini berkaitan dengan eksistensinya yang bisa menjadi penyeimbang ekosistem. Salah satu keuntungan dari adanya burung ini adalah ia mampu menjadi penyebar biji. Penyebaran biji-bijian ini berasal dari sisa makanannya.

Sementara itu, menurut catatan primbon Jawa, burung engkuk atau takur ungkut-ungkut menjadi pertanda tersendiri. Hal ini terutama ketika burung tersebut berada di sekitaran rumah, maka kehadirannya bisa membawa isyarat. Salah satu pertanda dari kehadiran burung engkuk jawa ini adalah bakal membawa keberuntungan bagi si pemilik rumah.

Delima Purnama Sari
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram