admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Jumat Pahing

Oleh:
Delima Purnama Sari

Tanaman Arang

Hari Jumat digambarkan memiliki simbolisasi pewarnaan hitam. Oleh karena itu, penggambaran weton hari tersebut adalah tanaman arang. Jenis tanaman arang ini sebetulnya bukan merujuk pada jenis spesies tertentu. Melainkan arang ini merujuk pada tanaman yang memiliki kayu keras dan cocok dijadikan sebagai bahan arang. Baik di Jawa secara khusus maupun Indonesia secara umum, banyak ditemukan jenis tanaman yang memiliki kayu keras. Dari kayu inilah kemudian bisa diolah menjadi produk arang yang memiliki warna hitam pekat.

Arang, atau dalam bahasa Jawa disebut areng, merupakan residu hitam yang berisi karbon tidak murni. Residu hitam ini dihasilkan dengan menghilangkan kandungan air dan komponen volatil yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Arang bisa didapatkan dari beberapa bahan, salah satu yang populer adalah kayu. Jika dilihat sekilas, bentuk dari arang ini menyerupai batu bara yang di dalamnya terkandung 85 sampai 98 persen karbon, sisanya adalah abu atau bahan kimia lainnya.

Arang kayu sendiri memang sangat populer di Jawa. Jenis arang ini bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Beberapa di antaranya adalah untuk memasak di tungku, sebagai penjernih air, penggunaan bidang kesehatan, dan lain sebagainya. Dengan melihat beberapa manfaat tadi, maka tidak boleh sembarangan dalam memilih kayu yang bakal dijadikan sebagai arang.

Pemilihan kayu arang yang bertekstur keras bukan tanpa sebab begitu saja. Hal ini lantaran jika kayu bahannya keras, maka kualitasnya bakal tinggi dan beberapa memiliki sifat-sifat yang disukai. Beberapa kayu keras yang kerap digunakan sebagai bahan arang seperti pohon bakau, kayu akasia, kayu jambu, kayu rambutan, kayu durian, kayu bidara, dan kayu asam jawa. Seperti kayu akasia misalnya, jenis kayu ini terkenal keras dan memiliki kandungan karbonnya yang tinggi. Gara-gara ini, arang dari kayu akasia memiliki tipikal pembakaran yang efisien dan tahan lama.

Lalu ada pohon asam jawa. Jenis kayu tanaman ini menjadi salah satu yang mudah ditemukan di Jawa dan daerah tropis lainnya. Jenis arang yang berasal dari kayu asam jawa ini bisa menghasilkan arang kayu bongkahan dengan kualitas diinginkan. Jenis arang dari kayu ini terkenal dengan tingkat kepadatannya yang tinggi. Alhasil, pembakaran kayu arang ini bisa tahan lama.

Tanaman Ingas

Pahing digambarkan dengan tanaman ingas atau dalam bahasa Indonesia disebut rengas. Tumbuhan ini merupakan salah satu anggota dari genus Gluta renghas yang tersebar luas. Namun, di Jawa sendiri, sayangnya pohon ini makin langka ditemukan. Beriringan dengan namanya yang jarang disebutkan, keberadaan dari tanaman ingas ini juga kian jarang ditemukan.

Jika dilihat dari ciri-cirinya, ingas merupakan salah satu pohon dengan ukuran sedang hingga besar. Ketinggian dari pohon ingas bisa mencapai 50 meter. Bahkan, bisa dibilang pohon ingas sendiri adalah pohon raksasa yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Tumbuhan ingas biasanya bakal tumbuh berkelompok seperti di hutan-hutan atau semak belukar dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Kemudian, untuk daunnya, ingas memiliki ciri-ciri tersusun dalam bentuk spiral. Daun ini juga tunggal dan bertepi rata dan tidak memiliki daun penumpu.

Meski pohon ingas bisa berukuran besar dan cukup bagus, kayu dari ingas dinilai jarang dimanfaatkan. Hal ini lantaran merujuk pada pohon ingas memiliki getah beracun yang cukup berbahaya bagi manusia. Jika terkena kulit, getah ini bisa menyebabkan radang pada kulit dan iritasi hebat. Gara-gara saking berbahayanya getah ingas ini, masyarakat tradisional dikabarkan juga tidak berani berteduh di bawah pohon ingas. Hal ini juga karena ada kepercayaan bahwa pohon ingas bisa mengeluarkan uap yang berbahaya bagi keselamatan manusia.

Bagi masyarakat Jawa, pohon ingas memang ditakuti. Iman Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Kisah Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017), menjelaskan bahwa banyak kisah yang menceritakan tentang kayu ingas yang dilemparkan ke sungai. Akhirnya, gara-gara ini, banyak orang-orang yang mandi di hilir bakal menderita peradangan kulit yang tak disangka-sangka. Selain itu, getah dari ingas sendiri juga pernah dijadikan sebagai salah satu racun yang dipasang di ujung tombak atau panah dalam peperangan di Tanah Jawa.

Burung Betet

Betet jawa atau betet biasa adalah penggambaran dari weton hari Jumat. Burung yang memiliki nama latin Psittacula alexandri ini merupakan anggota dari suku bayan. Dalam hal persebaran, terdapat beberapa wilayah, seperti ditemukan di kaki Pegunungan Himalaya, China, hingga Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Persebaran burung ini ada di beberapa pulau di Tanah Air. Mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Kepulauan Nias dihuni oleh betet jawa. Burung ini kebanyakan bisa ditemui di daerah hutan musim, hutan bakau, kebun jati dan kelapa, rawa gambut, hingga taman kota.

Dari ciri-cirinya, betet jawa bisa dikenali dengan ukuran 34 sentimeter. Burung ini memiliki ukuran kepala yang tergolong besar. Kemudian, bagian paruhnya ada warna merah berujung kuning. Bagian kepalanya abu-abu dan memiliki garis hitam tipis. Untuk pipi bawah dan dagunya berwarna hitam, perut hijau, hingga sayapnya berwarna kekuningan. Biasanya, betet jawa memilih untuk bertengger di berbagai ranting pohon yang ukurannya kecil. Hal ini lantaran memudahkannya untuk mencengkeram.

Dari segi kebiasaan, betet jawa kerap bergerombol bersama kelompoknya dalam jumlah banyak. Hal ini bisa diketahui pada saat terbang maupun ketika bersarang. Biasanya, ketika betet jawa sedang bertengger di pohon, maka tak jauh dari situ bakalan ada betet yang lain. Komunalisme betet ini juga terlihat pada saat sedang mencari makan. 

Betet jawa biasanya sering makan buah-buahan, biji-bijian, nektar, tunas pohon, hingga berbagai bunga-bungaan. Selain makan biji lunak, betet jawa kadang juga makan biji-bijian yang keras layaknya burung nuri mau kakatua.

Burung betet jawa ini memilih tinggal seperti burung hantu, yakni bersarang di dalam pohon. Biasanya, lubang pohon yang dijadikan sarang ini memakai bekas burung pelatuk, atau lubang lainnya yang sudah tersedia bagian pohon.

Dalam khazanah primbon Jawa, betet jawa juga menjadi berbagai pertanda. Salah satu pertanda ini adalah simbol keberuntungan. Simbol keberuntungan didasarkan pada sifat betet yang selalu ceria dan energik. Selain itu, pertanda lainnya dari betet jawa ini adalah melambangkan keberhasilan dalam komunikasi. Sifat kolektif dari burung ini pun sangat kuat dan merepresentasikan kehidupan sosial. Hubungan harmonis dengan lingkungan sekitar pun mudah tercipta.

Burung Engkuk Jawa

Pada pasaran Pahing, digambarkan burung engkuk jawa atau juga dikenal sebagai takur ungkut-ungkut. Burung yang memiliki nama latin Psilopogon haemacephalus ini tersebar luas di beberapa wilayah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Di Indonesia, beberapa pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara terdapat burung ini.

Salah satu yang menarik dari burung takur ungkut-ungkut ini adalah memiliki tubuh kecil dan menawan. Ciri-cirinya seperti keberadaan warna hijau pada hampir seluruh bulunya. Warna merah menjadi ciri khas dari jambul atau bulu di atas paruhnya. Sedangkan, warna kuning ada di bawah pelatuknya dan menghiasi bulu di sekitar area mata hampir berbentuk lingkaran. Lalu, warna merah ada di bagian leher dan kakinya. Secara ukuran, burung engkuk jawa ini memiliki panjang 15-17 sentimeter dan berat kurang lebih 30-52 gram.

Sebetulnya, engkuk jawa ini juga mirip dengan burung pelatuk. Kesamaan dengan burung tersebut adalah sama-sama tinggal di dalam pohon. Baik engkuk jawa dan pelatuk sama-sama melubangi pohon yang bakal dijadikan sebagai sarangnya. Dengan melihat tempat sarangnya itu, habitat dari engkuk jawa sudah bisa ditebak. Hampir di seluruh wilayah tempatnya ditemukan, takur ungkut-ungkut mendiami wilayah perkebunan dan hutan. Untuk membuat sarang, burung ini tak bisa sembarangan dalam memilih pohon. Biasanya, spesies ini bakal mencari pohon yang sudah kering karena bakal mudah untuk dilubangi. Takur ungkut-ungkut banyak ditemukan di ketinggian di bawah 1.500 meter dari permukaan laut.

Kebiasaan dari burung takur ungkut-ungkut yakni kerap menyendiri. Jika berkelompok, maka burung ini bakal berkumpul dengan kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, burung takur ungkut-ungkut bakal mencari makan buah-buahan, meski kadang juga burung ini biasanya makan serangga kecil seperti rayap.

Selain warnanya yang menarik, suara dari burung takur ungkut-ungkut ini sangatlah khas, yakni "tuk, tuk, tuk...". Dengan bunyi seperti itu, biasanya burung ini bakal terus mengeluarkan suara hingga beberapa menit. Untuk menemukan burung ini. Biasanya takur ungkut-ungkut bisa dijumpai di pedesaan dan perkotaan yang masih memiliki ruang terbuka hijau.

Keberadaan burung takur ungkut-ungkut sangat penting. Hal ini berkaitan dengan eksistensinya yang bisa menjadi penyeimbang ekosistem. Salah satu keuntungan dari adanya burung ini adalah ia mampu menjadi penyebar biji. Penyebaran biji-bijian ini berasal dari sisa makanannya.

Sementara itu, menurut catatan primbon Jawa, burung engkuk atau takur ungkut-ungkut menjadi pertanda tersendiri. Hal ini terutama ketika burung tersebut berada di sekitaran rumah, maka kehadirannya bisa membawa isyarat. Salah satu pertanda dari kehadiran burung engkuk jawa ini adalah bakal membawa keberuntungan bagi si pemilik rumah.

Delima Purnama Sari
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram