Hari Jumat digambarkan memiliki simbolisasi pewarnaan hitam. Oleh karena itu, penggambaran weton hari tersebut adalah tanaman arang. Jenis tanaman arang ini sebetulnya bukan merujuk pada jenis spesies tertentu. Melainkan arang ini merujuk pada tanaman yang memiliki kayu keras dan cocok dijadikan sebagai bahan arang. Baik di Jawa secara khusus maupun Indonesia secara umum, banyak ditemukan jenis tanaman yang memiliki kayu keras. Dari kayu inilah kemudian bisa diolah menjadi produk arang yang memiliki warna hitam pekat.
Arang, atau dalam bahasa Jawa disebut areng, merupakan residu hitam yang berisi karbon tidak murni. Residu hitam ini dihasilkan dengan menghilangkan kandungan air dan komponen volatil yang berasal dari hewan maupun tumbuhan. Arang bisa didapatkan dari beberapa bahan, salah satu yang populer adalah kayu. Jika dilihat sekilas, bentuk dari arang ini menyerupai batu bara yang di dalamnya terkandung 85 sampai 98 persen karbon, sisanya adalah abu atau bahan kimia lainnya.
Arang kayu sendiri memang sangat populer di Jawa. Jenis arang ini bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Beberapa di antaranya adalah untuk memasak di tungku, sebagai penjernih air, penggunaan bidang kesehatan, dan lain sebagainya. Dengan melihat beberapa manfaat tadi, maka tidak boleh sembarangan dalam memilih kayu yang bakal dijadikan sebagai arang.
Pemilihan kayu arang yang bertekstur keras bukan tanpa sebab begitu saja. Hal ini lantaran jika kayu bahannya keras, maka kualitasnya bakal tinggi dan beberapa memiliki sifat-sifat yang disukai. Beberapa kayu keras yang kerap digunakan sebagai bahan arang seperti pohon bakau, kayu akasia, kayu jambu, kayu rambutan, kayu durian, kayu bidara, dan kayu asam jawa. Seperti kayu akasia misalnya, jenis kayu ini terkenal keras dan memiliki kandungan karbonnya yang tinggi. Gara-gara ini, arang dari kayu akasia memiliki tipikal pembakaran yang efisien dan tahan lama.
Lalu ada pohon asam jawa. Jenis kayu tanaman ini menjadi salah satu yang mudah ditemukan di Jawa dan daerah tropis lainnya. Jenis arang yang berasal dari kayu asam jawa ini bisa menghasilkan arang kayu bongkahan dengan kualitas diinginkan. Jenis arang dari kayu ini terkenal dengan tingkat kepadatannya yang tinggi. Alhasil, pembakaran kayu arang ini bisa tahan lama.
Pasaran Kliwon digambarkan dengan tanaman rasamala. Kayu yang memiliki nama latin Altingia excelsa menjadi salah satu pohon yang bisa tumbuh di beberapa wilayah di Indonesia. Persebaran rasamala hampir ada di seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari Jawa, Kalimantan, dan Sumatra terdapat rasamala. Sayangnya, persebaran rasamala saat ini tergolong jarang ditemukan. Hal ini lantaran spesies tumbuhan ini telah mengalami penebangan sejak era pendudukan orang-orang Eropa di Tanah Air.
Secara morfologi, tanaman rasamala memiliki ciri bisa tumbuh hingga menjulang tinggi. Tak tanggung-tanggung, tanaman ini bisa mencapai ketinggian 40 hingga 60 meter. Dari segi diameter, rasamala memiliki diameter yang lebar, yakni antara 80 hingga 200 sentimeter. Selain itu, tanaman yang berasal dari genus Altingia ini memiliki percabangan hingga setinggi 20 sampai 35 meter.
Beberapa ciri lainnya dari rasamala adalah pohonnya memiliki permukaan batang yang halus. Batang permukaan dari kayu ini memiliki warna abu-abu kekuningan atau kecokelatan. Sedangkan, untuk daunnya yang masih muda memiliki warna merah. Daun yang masih muda tersebut bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi sayur dan lalapan. Sementara, kayunya rasamala terkenal kuat. Gara-gara saking kuatnya, kayu rasamala ini dipakai untuk bahan jembatan, bantalan rel kereta api, lantai, hingga perahu.
Sayangnya, gara-gara memiliki kayu yang kuat, akhirnya penebangan rasamala kian masif. Untuk persebarannya pun juga tidak sembarangan. Biasanya, pohon ini bakalan tumbuh di ketinggian 600 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut. Dengan ketinggian tersebut, rasama menjadi salah satu pohon favorit atau yang disukai oleh elang jawa atau gurdha (garuda) untuk membuat sarang. Rasamala pun memenuhi kriteria yang disukai oleh elang jawa, yakni pohon yang menjulang tinggi dan kuat.
Rasamala bakal tumbuh alami. Tetapi, dikarenakan banyaknya penebangan liar, ini bisa menjadi ancaman bagi tanaman ini. Bahkan, beberapa sumber ada yang bilang bahwa salah satu alasan mengapa elang jawa makin terancam punah yakni karena kian berkurangnya pohon rasamala ini.
Betet jawa atau betet biasa adalah penggambaran dari weton hari Jumat. Burung yang memiliki nama latin Psittacula alexandri ini merupakan anggota dari suku bayan. Dalam hal persebaran, terdapat beberapa wilayah, seperti ditemukan di kaki Pegunungan Himalaya, China, hingga Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Persebaran burung ini ada di beberapa pulau di Tanah Air. Mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Kepulauan Nias dihuni oleh betet jawa. Burung ini kebanyakan bisa ditemui di daerah hutan musim, hutan bakau, kebun jati dan kelapa, rawa gambut, hingga taman kota.
Dari ciri-cirinya, betet jawa bisa dikenali dengan ukuran 34 sentimeter. Burung ini memiliki ukuran kepala yang tergolong besar. Kemudian, bagian paruhnya ada warna merah berujung kuning. Bagian kepalanya abu-abu dan memiliki garis hitam tipis. Untuk pipi bawah dan dagunya berwarna hitam, perut hijau, hingga sayapnya berwarna kekuningan. Biasanya, betet jawa memilih untuk bertengger di berbagai ranting pohon yang ukurannya kecil. Hal ini lantaran memudahkannya untuk mencengkeram.
Dari segi kebiasaan, betet jawa kerap bergerombol bersama kelompoknya dalam jumlah banyak. Hal ini bisa diketahui pada saat terbang maupun ketika bersarang. Biasanya, ketika betet jawa sedang bertengger di pohon, maka tak jauh dari situ bakalan ada betet yang lain. Komunalisme betet ini juga terlihat pada saat sedang mencari makan.
Betet jawa biasanya sering makan buah-buahan, biji-bijian, nektar, tunas pohon, hingga berbagai bunga-bungaan. Selain makan biji lunak, betet jawa kadang juga makan biji-bijian yang keras layaknya burung nuri mau kakatua.
Burung betet jawa ini memilih tinggal seperti burung hantu, yakni bersarang di dalam pohon. Biasanya, lubang pohon yang dijadikan sarang ini memakai bekas burung pelatuk, atau lubang lainnya yang sudah tersedia bagian pohon.
Dalam khazanah primbon Jawa, betet jawa juga menjadi berbagai pertanda. Salah satu pertanda ini adalah simbol keberuntungan. Simbol keberuntungan didasarkan pada sifat betet yang selalu ceria dan energik. Selain itu, pertanda lainnya dari betet jawa ini adalah melambangkan keberhasilan dalam komunikasi. Sifat kolektif dari burung ini pun sangat kuat dan merepresentasikan kehidupan sosial. Hubungan harmonis dengan lingkungan sekitar pun mudah tercipta.
Pasaran Kliwon digambarkan dengan burung gogik atau rangkong, yang memiliki nama latin Bucerotidae. Burung ini terdiri dari setidaknya 59 spesies yang tersebar di seluruh dunia. Dalam persebarannya ini, rangkong merupakan spesies endemik yang berasal dari bagian selatan Afrika. Selain itu, di Indonesia, juga menjadi salah satu tempat ditemukannya beberapa spesies rangkong.
Burung rangkong jadi salah satu yang menarik di antara jenis burung lainnya. Pasalnya, di atas paruhnya yang besar, terdapat tanduk yang cukup besar pula. Inilah yang menjadi ciri khasnya. Burung rangkong memiliki ukuran yang besar. Dari beberapa spesies, seperti enggang jambul, rangkong gading, enggang papan, enggang papan, dan lain sebagainya, rata-rata memiliki ukuran mulai dari 85 sentimeter hingga 120 sentimeter.
Dilihat dari habitatnya, burung rangkong biasanya tinggal di dalam hutan primer. Artinya, burung ini bergantung pada keberadaan pohon-pohon besar. Selain untuk bersarang, hutan yang lebat juga menjadi tempat untuk mencari makan. Rangkong bertahan hidup dengan makan buah-buahan, serangga, tikus, hingga ular.
Bagi para petani, burung ini dianggap sebagai pembawa keberuntungan lantaran turut menjaga ekosistem sawah dari hama. Selain itu, burung ini juga kerap menebarkan biji-bijian dari buah yang dimakannya. Biji-bijian ini biasanya berasal dari sisa makanan yang nyangkut di paruhnya karena terlalu besar. Sisa makanan itu kemudian dikeluarkan karena lidah rangkong terlalu pendek.
Sementara itu, jika dilihat dari kebiasaan lainnya, rangkong bukanlah hewan individual. Tetapi, hewan biasanya kerap berpasangan atau berkelompok . Bahkan, dalam hal pasangan, rangkong disebut sebagai hewan dengan pasangan monogami. Bisa dibilang, rangkong menjadi burung yang setia kepada satu pasangannya saja. Sayangnya, gara-gara tempat tinggalnya yang kian minim, persebaran rangkong ini sudah makin mengkhawatirkan dengan status kritis.