Hari Sabtu memiliki penggambaran weton tanaman widara. Tanaman widara atau dalam bahasa Indonesia disebut bidara ini memiliki nama latin Ziziphus mauritiana. Widara sendiri adalah jenis tumbuhan perdu dengan tipikal pohon kecil yang memiliki buah. Tanaman ini pun mampu tumbuh di iklim tropis. Bahkan, untuk daerah kering sekalipun, widara tetap bisa hidup. Gara-gara inilah banyak daerah di Indonesia mulai dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat terdapat widara. Selain di Indonesia, persebaran widara juga ada di mancanegara.
Dilihat dari ciri-cirinya, pohon widara biasanya berbentuk bengkok dan bisa setinggi 15 meter dengan gemang batang hingga 40 sentimeter. Cabang-cabang dari pohon ini menyebar dan menjuntai. Ranting-ranting widara pun tumbuh simpang siur dan seperti bentuk rambut pendek. Meski tumbuh di daerah kering, tumbuhan widara mampu tumbuh dan berkembang hingga daerah ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Lalu, jika ada yang mengembangkan di atas ketinggian tersebut, maka pertumbuhannya kurang baik.
Untuk ciri-ciri buah, widara memiliki buah berbentuk bulat seperti telur. Biasanya buah tersebut memiliki ukuran panjang 6 sentimeter dan lebar 4 sentimeter. Ukuran ini biasanya untuk tanaman widara yang dibudidayakan. Sedangkan yang tumbuh liar, biasanya ukuran buahnya lebih kecil. Kulit buah widara sendiri memiliki tekstur yang halus, mengkilap, dan tipis. Untuk membedakan mana yang masak dan belum, biasanya buah widara ini bakal ada perbedaan warna. Jika belum masak, maka kulit buah widara berwarna hijau. Lalu, jika sudah masak, kulit buahnya bakal berwarna kuning kemerahan hingga kehitaman. Buah widara ini bisa dikonsumsi langsung. Biasanya, buah widara bakal diperjualbelikan sebagai buah segar. Selain dimakan langsung, buah widara juga bisa dijadikan sebagai bahan minuman, manisan, maupun untuk bahan rujak.
Sementara, untuk daun widara juga tak kalah bermanfaat. Biasanya, daun widara yang masih muda dapat dijadikan sebagai sayuran dan daun yang sudah tua bisa sebagai pakan ternak. Sementara, dari segi kesehatan, daun tumbuhan ini juga dipercaya memiliki beberapa manfaat. Mulai dari bisa menjaga kesehatan jantung, mempercepat penyembuhan luka, menurunkan kolesterol, menurunkan risiko diabetes, mengatasi jerawat, masalah pencernaan, hingga merawat rambut.
Tumbuhan widara memang dikenal kaya akan khasiat. Tak hanya daun yang memiliki manfaat, ternyata buah, biji, kulit kayu, dan akar tanaman ini juga bisa dijadikan sebagai obat untuk membantu pencernaan dan tapal obat luka. Bagi masyarakat Jawa, pohon ini juga kerap digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Tak hanya itu, kulit kayu widara juga bisa memiliki khasiat sebagai tonikum (obat untuk memulihkan atau menambah tenaga bagi orang yang lemah dan kurang darah). Kulit akar dari widara juga bisa untuk mengatasi kencing berdarah.
Dari segi tekstur, kayu widara memiliki ciri halus, keras, berwarna kemerahan, dan bisa tahan lama. Gara-gara inilah kayu widara juga dijadikan sebagai barang bubutan, perkakas rumah tangga, peti pengemas, hingga berbagai konstruksi lainnya. Selain itu, kayu widara juga bisa dijadikan sebagai kayu bakar berkualitas baik. Bahkan, jenis kayu ini juga memiliki kualitas unggulan sebagai bahan arang.
Bagi masyarakat Jawa, tumbuhan widara memang sangat dekat. Bahkan, saking dekatnya, nama tumbuhan ini juga dijadikan sebagai nama-nama desa atau kelurahan. Salah satunya seperti Desa Widoro yang berada di Kecamatan Krejengan, Probolinggo. Selain itu, masih ada puluhan desa lainnya di Jawa yang menggunakan nama widara, widoro, atau wedoro. Ini menjadi bukti betapa dekat dan mengakarnya tumbuhan widara dengan kebudayaan masyarakat Jawa.
Pahing digambarkan dengan tanaman ingas atau dalam bahasa Indonesia disebut rengas. Tumbuhan ini merupakan salah satu anggota dari genus Gluta renghas yang tersebar luas. Namun, di Jawa sendiri, sayangnya pohon ini makin langka ditemukan. Beriringan dengan namanya yang jarang disebutkan, keberadaan dari tanaman ingas ini juga kian jarang ditemukan.
Jika dilihat dari ciri-cirinya, ingas merupakan salah satu pohon dengan ukuran sedang hingga besar. Ketinggian dari pohon ingas bisa mencapai 50 meter. Bahkan, bisa dibilang pohon ingas sendiri adalah pohon raksasa yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Tumbuhan ingas biasanya bakal tumbuh berkelompok seperti di hutan-hutan atau semak belukar dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Kemudian, untuk daunnya, ingas memiliki ciri-ciri tersusun dalam bentuk spiral. Daun ini juga tunggal dan bertepi rata dan tidak memiliki daun penumpu.
Meski pohon ingas bisa berukuran besar dan cukup bagus, kayu dari ingas dinilai jarang dimanfaatkan. Hal ini lantaran merujuk pada pohon ingas memiliki getah beracun yang cukup berbahaya bagi manusia. Jika terkena kulit, getah ini bisa menyebabkan radang pada kulit dan iritasi hebat. Gara-gara saking berbahayanya getah ingas ini, masyarakat tradisional dikabarkan juga tidak berani berteduh di bawah pohon ingas. Hal ini juga karena ada kepercayaan bahwa pohon ingas bisa mengeluarkan uap yang berbahaya bagi keselamatan manusia.
Bagi masyarakat Jawa, pohon ingas memang ditakuti. Iman Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Kisah Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017), menjelaskan bahwa banyak kisah yang menceritakan tentang kayu ingas yang dilemparkan ke sungai. Akhirnya, gara-gara ini, banyak orang-orang yang mandi di hilir bakal menderita peradangan kulit yang tak disangka-sangka. Selain itu, getah dari ingas sendiri juga pernah dijadikan sebagai salah satu racun yang dipasang di ujung tombak atau panah dalam peperangan di Tanah Jawa.
Burung wangan bisa dipahami sebagai spesies burung yang tinggal di sekitaran wangan. Dalam Bausastra Jawa, Poerwadarminta, dijelaskan bahwa wangan memiliki arti kalèn ing sawah, sidhataning kali (aliran air di sawah, memotong dari sungai). Merujuk penjelasan tersebut, maka bisa diartikan burung wangan adalah burung-burung yang ada sekitaran aliran air di pinggir sawah. Selain itu, burung-burung ini juga dikenal dekat dengan lingkungan air seperti di aliran sungai.
Salah satu burung yang endemik di lingkungan sawah adalah blekok sawah. Burung yang memiliki nama latin Ardeola speciosa merupakan spesies yang berasal dari famili Ardeidae. Sesuai namanya, blekok sawah adalah burung yang habitatnya berada di sekitaran sawah. Hal ini sangat berkaitan erat dengan berbagai jenis makanannya, seperti serangga, ikan, dan kepiting. Melihat ciri-ciri lingkungan blekok sawah, burung ini keberadaannya tak sulit ditemukan. Dalam hal persebarannya pun luas ada di Asia Tenggara. Termasuk di Indonesia, burung ini jadi salah satu teman para petani di sawah.
Meski mudah ditemui, blekok sawah adalah burung yang dilindungi. Hal ini lantaran peranannya dalam ekosistem di alam sangat penting. Biasanya, selain di sawah, blekok sawah juga bisa dijumpai di beberapa ekosistem seperti tepian sungai hingga pesisir pantai. Biasanya, blekok sawah aktif mencari makan pada sore hari.
Dilihat dari ciri-cirinya, blekok sawah memiliki tubuh berukuran kecil. Kira-kira ukuran tubuhnya sebesar 45 sentimeter. Sekilas, burung ini mirip dengan burung kuntul lantaran masih satu famili. Tetapi, jika diperhatikan lebih detail, blekok sawah dan kuntul itu berbeda. Salah satu yang membedakan adalah warna bulunya. Blekok sawah memiliki bulu berwarna cokelat bercoret-coret. Ketika bertengger, burung ini di dadanya terlihat memiliki warna cokelat gelap-terang. Sedangkan, jika burung ini terbang, kepakan sayapnya memperlihatkan adanya perbedaan warna antara cokelat dan putih.
Selain burung itu, yang turut hidup di lingkungan sawah dan dekat dengan sungai adalah cekakak jawa. Burung dengan nama latin Halcyon cyanoventris ini merupakan spesies burung anggota genus Halcyon dari famili Halcyonidae (kerabat raja-udang). Memiliki tubuh berukuran sedang kurang lebih 25 sentimeter, cekakak jawa biasanya juga masuk jenis burung pemakan serangga. Biasanya, burung ini bakal mencari serangga di lahan terbuka dan dekat dengan air.
Untuk mengenali burung cekakak jawa, yakni memiliki warna sangat gelap. Bagian kepalanya berwarna cokelat tua. Lalu, warna cokelat ini juga terlihat pada tenggorokan dan kerah. Sedangkan, yang bagian mencolok adalah sayapnya yang khas berwarna hitam dan bulunya ketika terbang terlihat biru terang.
Burung cekakak jawa ini memang menyebar terbatas. Spesies ini diketahui merupakan endemik di Jawa dan Bali saja. Untuk menemukan cekakak jawa sebetulnya tak sulit. Pasalnya, burung ini kerap ditemui di lahan terbuka di dekat sumber air. Biasana cekakak jawa bakal mengunjungi area persawahan, kolam ikan, sungai, hingga semak-semak. Beberapa serangga, ikan, udang, dan katak menjadi makanan favorit dari cekakak jawa.
Pada pasaran Pahing, digambarkan burung engkuk jawa atau juga dikenal sebagai takur ungkut-ungkut. Burung yang memiliki nama latin Psilopogon haemacephalus ini tersebar luas di beberapa wilayah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Di Indonesia, beberapa pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara terdapat burung ini.
Salah satu yang menarik dari burung takur ungkut-ungkut ini adalah memiliki tubuh kecil dan menawan. Ciri-cirinya seperti keberadaan warna hijau pada hampir seluruh bulunya. Warna merah menjadi ciri khas dari jambul atau bulu di atas paruhnya. Sedangkan, warna kuning ada di bawah pelatuknya dan menghiasi bulu di sekitar area mata hampir berbentuk lingkaran. Lalu, warna merah ada di bagian leher dan kakinya. Secara ukuran, burung engkuk jawa ini memiliki panjang 15-17 sentimeter dan berat kurang lebih 30-52 gram.
Sebetulnya, engkuk jawa ini juga mirip dengan burung pelatuk. Kesamaan dengan burung tersebut adalah sama-sama tinggal di dalam pohon. Baik engkuk jawa dan pelatuk sama-sama melubangi pohon yang bakal dijadikan sebagai sarangnya. Dengan melihat tempat sarangnya itu, habitat dari engkuk jawa sudah bisa ditebak. Hampir di seluruh wilayah tempatnya ditemukan, takur ungkut-ungkut mendiami wilayah perkebunan dan hutan. Untuk membuat sarang, burung ini tak bisa sembarangan dalam memilih pohon. Biasanya, spesies ini bakal mencari pohon yang sudah kering karena bakal mudah untuk dilubangi. Takur ungkut-ungkut banyak ditemukan di ketinggian di bawah 1.500 meter dari permukaan laut.
Kebiasaan dari burung takur ungkut-ungkut yakni kerap menyendiri. Jika berkelompok, maka burung ini bakal berkumpul dengan kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, burung takur ungkut-ungkut bakal mencari makan buah-buahan, meski kadang juga burung ini biasanya makan serangga kecil seperti rayap.
Selain warnanya yang menarik, suara dari burung takur ungkut-ungkut ini sangatlah khas, yakni "tuk, tuk, tuk...". Dengan bunyi seperti itu, biasanya burung ini bakal terus mengeluarkan suara hingga beberapa menit. Untuk menemukan burung ini. Biasanya takur ungkut-ungkut bisa dijumpai di pedesaan dan perkotaan yang masih memiliki ruang terbuka hijau.
Keberadaan burung takur ungkut-ungkut sangat penting. Hal ini berkaitan dengan eksistensinya yang bisa menjadi penyeimbang ekosistem. Salah satu keuntungan dari adanya burung ini adalah ia mampu menjadi penyebar biji. Penyebaran biji-bijian ini berasal dari sisa makanannya.
Sementara itu, menurut catatan primbon Jawa, burung engkuk atau takur ungkut-ungkut menjadi pertanda tersendiri. Hal ini terutama ketika burung tersebut berada di sekitaran rumah, maka kehadirannya bisa membawa isyarat. Salah satu pertanda dari kehadiran burung engkuk jawa ini adalah bakal membawa keberuntungan bagi si pemilik rumah.