admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Sabtu Pon

Oleh:
Delima Purnama Sari

Tanaman Widara/Bidara

Hari Sabtu memiliki penggambaran weton tanaman widara. Tanaman widara atau dalam bahasa Indonesia disebut bidara ini memiliki nama latin Ziziphus mauritiana. Widara sendiri adalah jenis tumbuhan perdu dengan tipikal pohon kecil yang memiliki buah. Tanaman ini pun mampu tumbuh di iklim tropis. Bahkan, untuk daerah kering sekalipun, widara tetap bisa hidup. Gara-gara inilah banyak daerah di Indonesia mulai dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat terdapat widara. Selain di Indonesia, persebaran widara juga ada di mancanegara.

Dilihat dari ciri-cirinya, pohon widara biasanya berbentuk bengkok dan bisa setinggi 15 meter dengan gemang batang hingga 40 sentimeter. Cabang-cabang dari pohon ini menyebar dan menjuntai. Ranting-ranting widara pun tumbuh simpang siur dan seperti bentuk rambut pendek. Meski tumbuh di daerah kering, tumbuhan widara mampu tumbuh dan berkembang hingga daerah ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Lalu, jika ada yang mengembangkan di atas ketinggian tersebut, maka pertumbuhannya kurang baik.

Untuk ciri-ciri buah, widara memiliki buah berbentuk bulat seperti telur. Biasanya buah tersebut memiliki ukuran panjang 6 sentimeter dan lebar 4 sentimeter. Ukuran ini biasanya untuk tanaman widara yang dibudidayakan. Sedangkan yang tumbuh liar, biasanya ukuran buahnya lebih kecil. Kulit buah widara sendiri memiliki tekstur yang halus, mengkilap, dan tipis. Untuk membedakan mana yang masak dan belum, biasanya buah widara ini bakal ada perbedaan warna. Jika belum masak, maka kulit buah widara berwarna hijau. Lalu, jika sudah masak, kulit buahnya bakal berwarna kuning kemerahan hingga kehitaman. Buah widara ini bisa dikonsumsi langsung. Biasanya, buah widara bakal diperjualbelikan sebagai buah segar. Selain dimakan langsung, buah widara juga bisa dijadikan sebagai bahan minuman, manisan, maupun untuk bahan rujak.

Sementara, untuk daun widara juga tak kalah bermanfaat. Biasanya, daun widara yang masih muda dapat dijadikan sebagai sayuran dan daun yang sudah tua bisa sebagai pakan ternak. Sementara, dari segi kesehatan, daun tumbuhan ini juga dipercaya memiliki beberapa manfaat. Mulai dari bisa menjaga kesehatan jantung, mempercepat penyembuhan luka, menurunkan kolesterol, menurunkan risiko diabetes, mengatasi jerawat, masalah pencernaan, hingga merawat rambut.

Tumbuhan widara memang dikenal kaya akan khasiat. Tak hanya daun yang memiliki manfaat, ternyata buah, biji, kulit kayu, dan akar tanaman ini juga bisa dijadikan sebagai obat untuk membantu pencernaan dan tapal obat luka. Bagi masyarakat Jawa, pohon ini juga kerap digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan. Tak hanya itu, kulit kayu widara juga bisa memiliki khasiat sebagai tonikum (obat untuk memulihkan atau menambah tenaga bagi orang yang lemah dan kurang darah). Kulit akar dari widara juga bisa untuk mengatasi kencing berdarah. 

Dari segi tekstur, kayu widara memiliki ciri halus, keras, berwarna kemerahan, dan bisa tahan lama. Gara-gara inilah kayu widara juga dijadikan sebagai barang bubutan, perkakas rumah tangga, peti pengemas, hingga berbagai konstruksi lainnya. Selain itu, kayu widara juga bisa dijadikan sebagai kayu bakar berkualitas baik. Bahkan, jenis kayu ini juga memiliki kualitas unggulan sebagai bahan arang.

Bagi masyarakat Jawa, tumbuhan widara memang sangat dekat. Bahkan, saking dekatnya, nama tumbuhan ini juga dijadikan sebagai nama-nama desa atau kelurahan. Salah satunya seperti Desa Widoro yang berada di Kecamatan Krejengan, Probolinggo. Selain itu, masih ada puluhan desa lainnya di Jawa yang menggunakan nama widara, widoro, atau wedoro. Ini menjadi bukti betapa dekat dan mengakarnya tumbuhan widara dengan kebudayaan masyarakat Jawa.

Tanaman Kemuning

Tanaman kemuning menggambarkan pasaran Pon. Tumbuhan bernama latin Murraya paniculata ini berasal dari famili Rutaceae. Kemuning tidak sulit ditemukan di Indonesia. Pasalnya, tanaman ini merupakan tumbuhan tropis. Gara-gara karakteristiknya, kemuning bisa tumbuh liar layaknya semak belukar. Beberapa tempat yang biasanya ditumbuhi oleh kemuning seperti di tepi hutan. Selain itu, bagi masyarakat Jawa, tanaman ini sebetulnya juga sangat familiar lantaran bisa dijadikan sebagai pagar rumah.

Salah satu ciri-ciri dari kemuning ini adalah memiliki daun seperti daun jeruk. Namun, secara ukuran daunnya lebih kecil. Sedangkan, untuk pohonnya sendiri, kemuning bisa tumbuh hingga 12 meter. Namun, yang banyak ditemui dan biasanya tumbuh seperti belukar atau dalam bentuk pagar, kemuning tumbuh berkisar 2 hingga 3 meter. Kemudian, salah satu yang menarik dari kemuning ini adalah ia selalu berbunga sepanjang tahun. 

Dari segi kayu, kemuning tergolong memiliki yang cukup bagus, keras, dan ulet. Bentuk lain dari kemuning ini memang seperti semak dan memiliki pohon kecil serta bercabang banyak. Jika dipegang, batangnya terasa keras dan beralur.

Ada berbagai manfaat dari tanaman kemuning ini. Terutama bagian daun, bagi masyarakat Jawa kerap menggunakannya sebagai obat diare dan disentri. Tak hanya itu saja, manfaat lain dari daunnya yakni bisa untuk menyembuhkan keputihan, kencing nanah, sakit gigi, hingga radang buah zakar. Sedangkan, bagian lainnya dari kemuning yang bisa dijadikan sebagai obat adalah akarnya. Akar kemuning memiliki rasa pedas, pahit, dan hangat. Dari akar inilah kemudian digadang bisa sebagai obat penenang, obat anti radang, menghilangkan bengkak, hingga melancarkan peredaran darah.

Burung Wangan

Burung wangan bisa dipahami sebagai spesies burung yang tinggal di sekitaran wangan. Dalam Bausastra Jawa, Poerwadarminta, dijelaskan bahwa wangan memiliki arti kalèn ing sawah, sidhataning kali (aliran air di sawah, memotong dari sungai). Merujuk penjelasan tersebut, maka bisa diartikan burung wangan adalah burung-burung yang ada sekitaran aliran air di pinggir sawah. Selain itu, burung-burung ini juga dikenal dekat dengan lingkungan air seperti di aliran sungai.

Salah satu burung yang endemik di lingkungan sawah adalah blekok sawah. Burung yang memiliki nama latin Ardeola speciosa merupakan spesies yang berasal dari famili Ardeidae. Sesuai namanya, blekok sawah adalah burung yang habitatnya berada di sekitaran sawah. Hal ini sangat berkaitan erat dengan berbagai jenis makanannya, seperti serangga, ikan, dan kepiting. Melihat ciri-ciri lingkungan blekok sawah, burung ini keberadaannya tak sulit ditemukan. Dalam hal persebarannya pun luas ada di Asia Tenggara. Termasuk di Indonesia, burung ini jadi salah satu teman para petani di sawah.

Meski mudah ditemui, blekok sawah adalah burung yang dilindungi. Hal ini lantaran peranannya dalam ekosistem di alam sangat penting. Biasanya, selain di sawah, blekok sawah juga bisa dijumpai di beberapa ekosistem seperti tepian sungai hingga pesisir pantai. Biasanya, blekok sawah aktif mencari makan pada sore hari.

Dilihat dari ciri-cirinya, blekok sawah memiliki tubuh berukuran kecil. Kira-kira ukuran tubuhnya sebesar 45 sentimeter. Sekilas, burung ini mirip dengan burung kuntul lantaran masih satu famili. Tetapi, jika diperhatikan lebih detail, blekok sawah dan kuntul itu berbeda. Salah satu yang membedakan adalah warna bulunya. Blekok sawah memiliki bulu berwarna cokelat bercoret-coret. Ketika bertengger, burung ini di dadanya terlihat memiliki warna cokelat gelap-terang. Sedangkan, jika burung ini terbang, kepakan sayapnya memperlihatkan adanya perbedaan warna antara cokelat dan putih.

Selain burung itu, yang turut hidup di lingkungan sawah dan dekat dengan sungai adalah cekakak jawa. Burung dengan nama latin Halcyon cyanoventris ini merupakan spesies burung anggota genus Halcyon dari famili Halcyonidae (kerabat raja-udang). Memiliki tubuh berukuran sedang kurang lebih 25 sentimeter, cekakak jawa biasanya juga masuk jenis burung pemakan serangga. Biasanya, burung ini bakal mencari serangga di lahan terbuka dan dekat dengan air.

Untuk mengenali burung cekakak jawa, yakni memiliki warna sangat gelap. Bagian kepalanya berwarna cokelat tua. Lalu, warna cokelat ini juga terlihat pada tenggorokan dan kerah. Sedangkan, yang bagian mencolok adalah sayapnya yang khas berwarna hitam dan bulunya ketika terbang terlihat biru terang.

Burung cekakak jawa ini memang menyebar terbatas. Spesies ini diketahui merupakan endemik di Jawa dan Bali saja. Untuk menemukan cekakak jawa sebetulnya tak sulit. Pasalnya, burung ini kerap ditemui di lahan terbuka di dekat sumber air. Biasana cekakak jawa bakal mengunjungi area persawahan, kolam ikan, sungai, hingga semak-semak. Beberapa serangga, ikan, udang, dan katak menjadi makanan favorit dari cekakak jawa. 

Burung Kepodang

Burung kepodang menjadi penggambaran dari pasaran Pon. Burung yang masuk dalam ordo Passeriformes famili Oriolidae ini banyak ditemukan di Indonesia. Mulai dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, hingga semenanjung Malaya. Dilihat dari segi ciri-ciri, burung kepodang sangatlah unik dan khas. Salah satu yang terkenal dari burung ini adalah penampilannya yang rapi dan tampak mempesona. Bahkan, tak sedikit yang menjuluki burung ini sebagai burung pesolek lantaran memiliki bulu yang indah.

Bulu kepodang memiliki ciri memiliki bulu berwarna kuning dan hitam. Ukurannya relatif sedang dengan panjang sekitar 25 sentimeter. Jika dilihat dari berbagai spesiesnya, kepodang terbagi dalam beberapa jenis. Mulai dari kepodang hutan, kepodang hitam, kepodang melayu, kepodang hawa, kepodang kerudung-hitam, dan kepodang kuduk-hitam. Warna hitam dan kuning mendominasi dari beberapa jenis kepodang itu. 

Kepodang hutan memiliki warna kombinasi kuning, hitam, dan cokelat abu-abu. Kepodang kuduk-hitam berwarna kuning dominan dan sayap bawah berwarna hitam. Kemudian, kepodang kerudung-hitam hampir sama dengan kepodang kuduk-hitam. Tetapi, yang membedakan adalah di bagian kepala kepodang kerudung-hitam ini terdapat bulu berwarna hitam. Seakan-akan burung tersebut memang sedang memakai kerudung hitam.

Sementara itu, kepodang hitam sesuai namanya yakni memiliki warna bulu yang mayoritas hitam. Jenis kepodang hitam ini kemudian mirip dengan kepodang jawa dan kepodang melayu. Hal ini karena keduanya memiliki dominasi bulu berwarna hitam. Tetapi, di bagian dada dua jenis burung ini terdapat warna merah untuk membedakan antara si jantan dan betina. Sayangnya, dari beberapa jenis kepodang ini, memang agak sulit untuk membedakan antara yang jantan dan betina itu.

Kepodang biasanya hidup di hutan-hutan terutama di daerah tropis dan subtropis. Burung ini biasanya hidup komunal atau berkelompok. Atau, paling tidak kepodang bakal hidup berpasangan. Termasuk dalam hal mencari makan, kepodang bakal tetap menerapkan laku kolektif. Burung ini biasanya bertahan hidup dengan mencari makanan seperti buah-buahan seperti pepaya, jeruk, hingga beberapa jenis serangga.

Delima Purnama Sari
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram