Dalam dunia weton masyarakat Jawa, hari Senin memiliki simbol tanaman Kunir. Kunir atau dalam bahasa Indonesia disebut kunyit ini merupakan tanaman yang banyak ditemui. Tumbuhan yang memiliki nama latin Curcuma longa ini termasuk dalam jenis salah satu rempah-rempah dari wilayah Asia Tenggara. Mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Kamboja terdapat tanaman ini
Khususnya bagi masyarakat Jawa, kunyit sangatlah lekat dengan berbagai tradisi. Bahkan, saking lekatnya, kunyit dijadikan sebagai nama-nama desa atau kelurahan yang ada di Jawa. Mulai dari Desa Pakuniran yang ada di Kecamatan Maesan, Bondowoso, Desa Kuniran di Kecamatan Purwosari, Bojonegoro, Desa Kunirejo Kulon dan Kunirejo Wetan yang ada di Kecamatan Butuh, Purworejo. Selain itu, setidaknya ada belasan penggunaan nama kunir dalam nama-nama desa di Jawa.
Kunyit sendiri memang bisa mudah tumbuh di iklim tropis. Untuk bisa tumbuh dengan baik, kunyit memerlukan ketinggian sekitar 1.000 meter dari permukaan laut. Selain itu, suhu yang diperlukan untuk bisa menumbuhkan tanaman ini antara 20-30 derajat celsius. Sinar matahari pun dibutuhkan untuk mempermudah pertumbuhan kunyit. Hal ini lantaran berpengaruh ke pertumbuhan rimpang atau ubinya.
Dari segi ciri-ciri, kunyit merupakan tumbuhan bercabang dan memiliki tinggi antara 40-100 sentimeter. Batang kunyit tidak keras. Tumbuhan ini memiliki batang yang semu, tegak, bulat, dan membentuk rimpang dengan warga hijau dan kekuningan. Sementara itu, untuk daunnya berbentuk bulan memanjang mulai dari 10-40 sentimeter dan lebarnya 8-12 sentimeter.
Bagi masyarakat Jawa, kunyit memiliki segudang manfaat. Tumbuhan ini banyak digunakan sebagai ramuan jamu tradisional. Tidak sembarangan kunyit bisa dipilih untuk jamu. Paling tidak, umur kunyit yang bisa dipanen antara 8-18 bulan dari masa tanam. Ada berbagai ciri-ciri ketika kunyit ini bisa dipanen. Beberapa tanda tersebut mulai dari berakhirnya pertumbuhan vegetatif seperti kelayuan hingga warna daun maupun batang menjadi kuning.
Tak sekadar minuman biasa, jamu kunyit terbukti memiliki beragam khasiat. Mulai dari menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, hingga menyembuhkan rasa kesemutan. Tanaman ini juga bisa menyembuhkan penyakit lambung, hingga bisa melepaskan kelebihan gas yang ada di usus. Ramuan kunyit juga berkhasiat untuk mencegah penggumpalan darah dan pembengkakan bagian tubuh. Bahkan, hingga dewasa ini, jamu kunir asem masih populer di kalangan masyarakat Jawa. Apalagi, minuman tersebut juga kerap dikonsumsi oleh para perempuan yang sedang mengalami masa datang bulan.
Sementara itu, rempah-rempah ini juga menjadi salah satu bumbu wajib dari berbagai olahan dapur. Mulai dari masakan jenis gulai hingga sayuran bumbu bali. Kegunaan kunyit bisa menambah cita rasa yang khas. Warna kuning dan oranye sangat berguna memberikan karakteristik pada suatu makanan. Salah satu makanan yang kental akan warna kuning kunyit ini adalah nasi kuning. Penggunaan kunyit sebagai pewarna alami pada nasi kuning juga menjadi salah satu kepercayaan yang terus dirawat oleh masyarakat Jawa. Warna kuning dari kunyit ini juga menjadi perlambang akan adanya harapan kemakmuran di masa mendatang.
Bagi masyarakat Jawa, kunyit memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Selain lekat dengan tradisi tumpengan yang menggunakan nasi kuning, tradisi lainnya yang memakai kunyit berkaitan dengan kesehatan pada masa lalu. Salah satu tradisi yang memerlukan rimpang kunyit adalah pemotongan pusar bayi oleh para dukun bayi tradisional. Biasanya, para dukun bayi bakal menggunakan semacam kulit bambu untuk memotong tali pusar. Lalu, rimpang kunyit yang sudah dikupas inilah yang kemudian dijadikan sebagai landasan ketika memotong.
Pahing digambarkan dengan tanaman ingas atau dalam bahasa Indonesia disebut rengas. Tumbuhan ini merupakan salah satu anggota dari genus Gluta renghas yang tersebar luas. Namun, di Jawa sendiri, sayangnya pohon ini makin langka ditemukan. Beriringan dengan namanya yang jarang disebutkan, keberadaan dari tanaman ingas ini juga kian jarang ditemukan.
Jika dilihat dari ciri-cirinya, ingas merupakan salah satu pohon dengan ukuran sedang hingga besar. Ketinggian dari pohon ingas bisa mencapai 50 meter. Bahkan, bisa dibilang pohon ingas sendiri adalah pohon raksasa yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Tumbuhan ingas biasanya bakal tumbuh berkelompok seperti di hutan-hutan atau semak belukar dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Kemudian, untuk daunnya, ingas memiliki ciri-ciri tersusun dalam bentuk spiral. Daun ini juga tunggal dan bertepi rata dan tidak memiliki daun penumpu.
Meski pohon ingas bisa berukuran besar dan cukup bagus, kayu dari ingas dinilai jarang dimanfaatkan. Hal ini lantaran merujuk pada pohon ingas memiliki getah beracun yang cukup berbahaya bagi manusia. Jika terkena kulit, getah ini bisa menyebabkan radang pada kulit dan iritasi hebat. Gara-gara saking berbahayanya getah ingas ini, masyarakat tradisional dikabarkan juga tidak berani berteduh di bawah pohon ingas. Hal ini juga karena ada kepercayaan bahwa pohon ingas bisa mengeluarkan uap yang berbahaya bagi keselamatan manusia.
Bagi masyarakat Jawa, pohon ingas memang ditakuti. Iman Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Kisah Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017), menjelaskan bahwa banyak kisah yang menceritakan tentang kayu ingas yang dilemparkan ke sungai. Akhirnya, gara-gara ini, banyak orang-orang yang mandi di hilir bakal menderita peradangan kulit yang tak disangka-sangka. Selain itu, getah dari ingas sendiri juga pernah dijadikan sebagai salah satu racun yang dipasang di ujung tombak atau panah dalam peperangan di Tanah Jawa.
Burung kuniran atau dalam bahasa Indonesia burung sepah hutan menjadi penggambaran weton hari Senin. Sepah hutan memiliki nama latin Pericrocotus flammeus. Burung ini masuk dalam spesies burung dari keluarga Campephagidae, dari genus Pericrocotus. Untuk persebarannya, sepah hutan tersebar luas di banyak wilayah. Mulai dari Afrika, Asia, hingga Australia. Lokasi favorit dari burung ini adalah berada di kawasan hutan dan padang savana.
Sepah hutan merupakan jenis burung pemakan ulat, jangkrik, dan serangga lainnya. Karena tipikal makanan itu, burung ini memiliki habitat yang ada di hutan primer, dataran rendah, dan perbukitan. Biasanya, habitat burung ini tersebar sampai pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut.
Untuk ciri-cirinya, sepah hutan memiliki tubuh sekitar 19 sentimeter. Ada beberapa warna dari burung ini. Biasanya, untuk jantan, sepah hutan memiliki warna hitam-biru. Dada dan perutnya memiliki bulu berwarna merah. Warna merah ini juga terlihat pada sisi luar bulu ekornya. Lalu, bagian sayap sepah hutan jantan juga ada dua bercak merah. Sedangkan, untuk sepah hutan betina memiliki warna punggung yang lebih abu-abu. Warna merah mayoritas digantikan dengan warna kuning, mulai dari tenggorokan, dagu, penutup telinga, dan dahinya.
Sepah hutan betina lebih memiliki tubuh atas yang lebih gelap dan bagian bawah lebih terang. Salah satu kebiasaan dari sepah hutan ini adalah mereka suka berkelompok atau berpasangan dan melompat-lompat di antara ranting pohon dengan daun bertekstur halus. Sepah hutan bakal memanfaat kumpulan ranting pohon untuk membuat sarang yang berbentuk seperti cawan.
Dalam persebarannya di Indonesia, buruh sepah hutan bisa ditemui di banyak daerah. Mulai dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Sepah hutan bakal mengeluarkan suara "wit wit wit wit" yang terdengar seperti siulan. Suaranya yang khas ini juga menjadi ciri khas yang mudah untuk dikenali.
Dalam hal kebudayaan lokal, burung sepah hutan dianggap dekat dengan kepercayaan maupun mitos di masyarakat. Salah satunya adalah berkaitan erat dengan masalah keberuntungan dan hal magis. Di beberapa daerah, burung sepah ini diyakini bisa mendatangkan rezeki atau jodoh untuk pemiliknya. Beberapa mitos lainnya yang disematkan terhadap burung ini adalah terkait masalah kesehatan. Beberapa kepercayaan menganggap bahwa dengan memelihara burung sepah, maka bakal mendatangkan efek positif terkait kesehatan. Suaranya yang merdu dianggap berdampak pada kesehatan mental dan meningkatkan konsentrasi.
Pada pasaran Pahing, digambarkan burung engkuk jawa atau juga dikenal sebagai takur ungkut-ungkut. Burung yang memiliki nama latin Psilopogon haemacephalus ini tersebar luas di beberapa wilayah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Di Indonesia, beberapa pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara terdapat burung ini.
Salah satu yang menarik dari burung takur ungkut-ungkut ini adalah memiliki tubuh kecil dan menawan. Ciri-cirinya seperti keberadaan warna hijau pada hampir seluruh bulunya. Warna merah menjadi ciri khas dari jambul atau bulu di atas paruhnya. Sedangkan, warna kuning ada di bawah pelatuknya dan menghiasi bulu di sekitar area mata hampir berbentuk lingkaran. Lalu, warna merah ada di bagian leher dan kakinya. Secara ukuran, burung engkuk jawa ini memiliki panjang 15-17 sentimeter dan berat kurang lebih 30-52 gram.
Sebetulnya, engkuk jawa ini juga mirip dengan burung pelatuk. Kesamaan dengan burung tersebut adalah sama-sama tinggal di dalam pohon. Baik engkuk jawa dan pelatuk sama-sama melubangi pohon yang bakal dijadikan sebagai sarangnya. Dengan melihat tempat sarangnya itu, habitat dari engkuk jawa sudah bisa ditebak. Hampir di seluruh wilayah tempatnya ditemukan, takur ungkut-ungkut mendiami wilayah perkebunan dan hutan. Untuk membuat sarang, burung ini tak bisa sembarangan dalam memilih pohon. Biasanya, spesies ini bakal mencari pohon yang sudah kering karena bakal mudah untuk dilubangi. Takur ungkut-ungkut banyak ditemukan di ketinggian di bawah 1.500 meter dari permukaan laut.
Kebiasaan dari burung takur ungkut-ungkut yakni kerap menyendiri. Jika berkelompok, maka burung ini bakal berkumpul dengan kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, burung takur ungkut-ungkut bakal mencari makan buah-buahan, meski kadang juga burung ini biasanya makan serangga kecil seperti rayap.
Selain warnanya yang menarik, suara dari burung takur ungkut-ungkut ini sangatlah khas, yakni "tuk, tuk, tuk...". Dengan bunyi seperti itu, biasanya burung ini bakal terus mengeluarkan suara hingga beberapa menit. Untuk menemukan burung ini. Biasanya takur ungkut-ungkut bisa dijumpai di pedesaan dan perkotaan yang masih memiliki ruang terbuka hijau.
Keberadaan burung takur ungkut-ungkut sangat penting. Hal ini berkaitan dengan eksistensinya yang bisa menjadi penyeimbang ekosistem. Salah satu keuntungan dari adanya burung ini adalah ia mampu menjadi penyebar biji. Penyebaran biji-bijian ini berasal dari sisa makanannya.
Sementara itu, menurut catatan primbon Jawa, burung engkuk atau takur ungkut-ungkut menjadi pertanda tersendiri. Hal ini terutama ketika burung tersebut berada di sekitaran rumah, maka kehadirannya bisa membawa isyarat. Salah satu pertanda dari kehadiran burung engkuk jawa ini adalah bakal membawa keberuntungan bagi si pemilik rumah.