Tanaman kayu tangan atau dalam bahasa Indonesia disebut tanaman patah tulang menjadi salah satu penggambaran dari weton tanaman hari Selasa. Tanaman bernama latin Euphorbia tirucalli ini banyak dijumpai di negeri ini. Selain di kawasan Asia, persebaran tumbuhan patah tulang juga ada di daerah tropis seperti di Afrika. Beberapa negara di benua tersebut seperti Angola hingga Zanzibar.
Patah tulang sendiri merupakan tumbuhan perdu yang memiliki ciri-ciri tumbuh tegak. Biasanya, tanaman patah tulang ini memiliki tinggi 2-6 meter. Biasanya, patah tulang bisa ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 600 meter dari permukaan laut. Tak sulit untuk mengenali jenis tumbuhan ini. Patah tulang memiliki pangkal kayu, bercabang banyak, dan punya kandungan getah berwarna putih kental. Untuk daunnya sendiri, patah tulang sangatlah jarang. Daun dari tanaman ini selalu lebat di bagian ujung dari cabang atau ranting pohonnya. Daun-daun ini juga bergerombol pada ranting yang masih muda dan berukuran kecil.
Ada berbagai manfaat dari tumbuhan patah tulang ini. Di Indonesia, tanaman ini biasanya dijadikan sebagai pagar rumah, tanaman hias, hingga digunakan untuk bahan obat-obatan. Salah satu yang diambil khasiatnya dari tanaman ini adalah bagian getahnya. Kandungan dalam getah patah tulang seperti euphol, zat pahit, zat karet, euphorbone, taraksasterol dan juga laktucerol.
Biasanya, beberapa penyakit kulit bisa diobati dengan getah tanaman patah tulang. Beberapa penyakit kulit yang bisa disembuhkan di antaranya seperti mengatasi kapalan, menyembuhkan kutil, menghilangkan tahi lalat, mengurangi nyeri persendian, menyembuhkan sakit gigi, mempercepat penyembuhan luka, mencegah kanker payudara, hingga mengatasi batuk.
Bagi masyarakat Jawa, tapal dari batang atau kulit tanaman ini juga bisa digunakan untuk mengatasi seseorang yang mengalami kondisi patah tulang. Penggunaan tanaman ini sebagai bahan untuk menyembuhkan kondisi patah tulang terhitung sudah dari lama. Untuk penggunaannya, kulit tanaman ini bakal dihaluskan dan dibalurkan dan dibungkus menggunakan perban pada area yang mengalami patah tulang.
Selain dari segi kesehatan, ada berbagai manfaat lain yang bisa diperoleh dari tanaman patah tulang. Masyarakat pedesaan biasanya memanfaatkan tanaman patah tulang untuk meracuni ikan di sungai supaya mudah ditangkap. Untuk manfaat lainnya, tumbuhan patah tulang juga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk dan mengeluarkan bisa ular.
Itulah segudang manfaat dari tumbuhan patah tulang. Sayangnya, di balik banyaknya manfaat itu, getah dari patah tulang jika terkena mata berisiko menyebabkan mata buta. Oleh karena itu, perlu penanganan khusus dalam hal menggunakan tanaman sejuta khasiat ini.
Selain siklus mingguan, pancawara atau pasaran dalam masyarakat Jawa juga memiliki penggambaran tanaman. Pertama ada Legi. Salah satu pasaran ini memiliki arti manis. Legi menggambarkan mungkur atau berbalik arah ke belakang. Dalam penggambaran tanaman, Legi digambarkan dengan kayu putih. Tumbuhan yang memiliki nama latin Melaleuca leucadendra ini adalah pohon bagian anggota suku jambu-jambuan.
Secara etimologi, tanaman kayu putih diberi nama tersebut lantaran memiliki kulit kayu yang berwarna putih. Jika dilihat dari karakteristiknya, kayu putih memiliki kulit yang tebal seperti kertas atau gabus. Tumbuhan ini diketahui bisa tumbuh hingga setinggi kurang lebih 20 meter. Untuk daunnya, kayu putih memiliki daun berukuran kurang pandang kurang dari 6 sentimeter dan lebar kurang lebih 0,8 sentimeter. Daunnya ini memiliki ciri khas yang meruncing.
Tanaman kayu putih terkenal akan khasiatnya. Salah satunya adalah dimanfaatkan sebagai sumber minyak kayu putih. Bagi masyarakat Tanah Air, minyak tersebut sangat familiar. Salah satu kegunaannya adalah menghangatkan badan, meredakan gatal-gatal di kulit, mengatasi hidung tersumbat, dan meredakan sakit kepala. Untuk membuat minyak kayu putih tidak bisa sembarangan. Beberapa langkah di antaranya adalah minyak yang diekstrak harus disuling dengan uap. Bagian yang dijadikan minyak ini terutama daun dan rantingnya.
Tumbuhan kayu putih mampu tumbuh dengan baik di Indonesia. Beberapa wilayah seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua terdapat tumbuhan ini. Bahkan, di Australia bagian utara juga mampu tumbuh. Gara-gara manfaatnya yang melimpah, kayu putih akhirnya banyak yang mengembangkan. Bahkan, dewasa ini, tumbuhan ini sudah masuk dalam kategori kebutuhan industri. Di bidang industri, kayu putih biasanya bisa dibentuk seperti hutan tersendiri oleh Perusahaan Umum Kehutanan Negara atau Perum Perhutani.
Di Jawa saja, persebaran kayu putih sangat melimpah. Bisa dibilang, salah satu industri minyak atsiri terbesar di Indonesia ada di Jawa. Perum Perhutani melihat adanya potensi yang besar terhadap tumbuhan ini. Akhirnya, banyak pabrik pengolahan daun kayu putih milik Perum Perhutani di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Rizqi Helfiansah, dkk. dalam "Isolasi, Identifikasi dan Pemurnian Senyawa 1,8 Sineol Minyak Kayu Putih", menjelaskan bahwa pabrik kayu putih di Pulau Jawa memiliki kapasitas pabrik sebesar 53.760 ton per tahun. Laporan yang terbit di ASEAN Journal of Systems Engineering, Vol. 1, No.1, Juli 2013:19-24, menyebut bahwa di Jawa pernah memproduksi minyak kayu putih hingga sebesar 300 ton.
Burung bubut jawa yang memiliki nama latin Centropus nigrorufus menjadi penggambaran weton hari Selasa. Burung endemik Jawa ini masuk dalam keluarga Cuculidae. Famili tersebut sebetulnya tersebar luas di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, berbagai wilayah kepulauan yang memiliki hutan lebat dihuni oleh berbagai spesies burung bubut. Jenis burung ini sangat terkenal sebagai parasit lantaran tidak membuat sarang dan tidak mengasuh anakan. Ketika bertelur, burung ini bakal menutupkan telur di inang jenis lain.
Untuk bubut jawa sendiri memiliki ciri-ciri bulu di badannya berwarna hitam. Sedangkan, pada sayapnya berwarna coklat kemerahan. Dengan ukuran kurang lebih 46 sentimeter, burung ini kerap bertengger di pohon-pohon yang memiliki banyak ranting kecil seperti bambu, jati, dan hutan bakau. Untuk mengenali jenis bubut jawa, bisa juga dilihat dari matanya yang berwarna merah dan ekor berwarna hitam.
Jenis burung bubut jawa sebetulnya mirip dengan bubut besar. Namun, secara ukuran bubut jawa lebih kecil dan memiliki warna hitam yang lebih suram dan hampir kotor. Dari segi suara, bubut jawa biasanya mengeluarkan bunyi "whup-pupupupupu-pup" yang diulang terus. Jenis suara ini beberapa sumber menyebut masuk dalam kategori tidak enak didengar. Lalu, untuk membedakan antara jantan dan betina cukup sulit. Hal ini lantaran ukuran keduanya hampir mirip, meski lebih besar betina.
Meski memiliki paruh yang sangar dan tubuh yang besar, bubut jawa bukanlah jenis burung raptor. Jenis makanan dari hewan ini adalah serangga seperti ulat bulu, capung, jangkrik, kumpang, dan kupu-kupu. Selain itu, beberapa hewan yang ukurannya kecil seperti siput, katak, tikus kecil juga menjadi santapan bubut jawa.
Sementara itu, untuk persebarannya, bubut jawa merupakan endemik Jawa. Namun, baru-baru ini di Pulau Madura juga ditemukan burung ini. Secara persebaran ini, bubur jawa bisa dijumpai pada dataran rendah dan vegetasi yang rapat. Biasanya untuk habitatnya, bubut jawa bisa hidup di ketinggian mendapat 800 meter di atas permukaan laut.
Hingga dewasa ini, bubut jawa sebetulnya masuk dalam kategori burung yang makin terancam. Pada 2016, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memperkirakan jumlah burung ini kurang lebih 250 sampai 10 ribu ekor. Statusnya pun bisa dibilang rentan. Adanya ancaman ini mulai dari kerusakan habitat burung seperti alih fungsi lahan, keberadaan pabrik, dan adanya faktor polusi. Selain itu, perburuan liar yang masih marak juga menjadi ancaman tersendiri.
Burung bubut jawa dianggap menjadi salah satu pembawa pertanda. Kepercayaan ini mulai dari kaitannya dengan suaranya. Beberapa kebudayaan masyarakat menganggap bahwa suara burung ini sebagai pertanda datangnya hujan atau perubahan cuaca. Selain itu, burung bubut juga dianggap sebagai simbol membawa keberuntungan maupun nasib buruk.
Pasaran dalam tradisi masyarakat Jawa juga memiliki penggambaran burung. Seperti halnya pasaran Legi. Pasaran yang memiliki arti manis ini memiliki penggambaran burung kuntul. Nama kuntul sendiri adalah sebutan untuk burung yang berasal dari suku Ardeidae. Spesies ini memang jadi salah satu endemik yang biasa muncul di lingkungan sawah. Bagi siapa saja yang pernah ke sawah dan melihat ketika musim tanam padi, biasanya burung kuntul bakal muncul di situ.
Memiliki warna putih dengan kaki dan paruhnya yang panjang, burung kuntul bakal terbang dan mencari makan di sawah secara berkelompok. Sifat kolektif inilah yang melekat pada burung kuntul. Ketika menjelang sore tiba, biasanya kawanan burung ini bakal pergi ke pohon bambu atau sejenis yang rindang untuk tidur.
Habitat kuntul memang berada di lahan basah. Dalam hal makan, burung ini bakal mencari serangga di sawah, ikan, hingga katak untuk dimakan. Ketika para petani membajak sawah, biasanya burung ini bakal berada di dekat tanah yang telah dibajak itu. Pasalnya, serangga-serangga tanah bakal keluar dan bisa menjadi santapannya.
Salah satu yang menarik dari kuntul ini adalah sewaktu terbang lehernya membentuk seperti huruf "S". Lehernya itu justru sangat khas dan tidak diluruskan. Hal inilah kemudian yang menjadi pembeda dengan burung dari keluarga bangau (Ciconiidae) dan ibis (Threskiornithidae). Dari beberapa sumber, burung kuntul juga dianggap sebagai burung yang paling pintar. Hal ini berkaitan dengan kebiasaannya ketika mencari makan dan bertahan hidup.