admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Selasa Pon

Oleh:
Delima Purnama Sari

Tanaman Kayu Tangan

Tanaman kayu tangan atau dalam bahasa Indonesia disebut tanaman patah tulang menjadi salah satu penggambaran dari weton tanaman hari Selasa. Tanaman bernama latin Euphorbia tirucalli ini banyak dijumpai di negeri ini. Selain di kawasan Asia, persebaran tumbuhan patah tulang juga ada di daerah tropis seperti di Afrika. Beberapa negara di benua tersebut seperti Angola hingga Zanzibar.

Patah tulang sendiri merupakan tumbuhan perdu yang memiliki ciri-ciri tumbuh tegak. Biasanya, tanaman patah tulang ini memiliki tinggi 2-6 meter. Biasanya, patah tulang bisa ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian 600 meter dari permukaan laut. Tak sulit untuk mengenali jenis tumbuhan ini. Patah tulang memiliki pangkal kayu, bercabang banyak, dan punya kandungan getah berwarna putih kental. Untuk daunnya sendiri, patah tulang sangatlah jarang. Daun dari tanaman ini selalu lebat di bagian ujung dari cabang atau ranting pohonnya. Daun-daun ini juga bergerombol pada ranting yang masih muda dan berukuran kecil.

Ada berbagai manfaat dari tumbuhan patah tulang ini. Di Indonesia, tanaman ini biasanya dijadikan sebagai pagar rumah, tanaman hias, hingga digunakan untuk bahan obat-obatan. Salah satu yang diambil khasiatnya dari tanaman ini adalah bagian getahnya. Kandungan dalam getah patah tulang seperti euphol, zat pahit, zat karet, euphorbone, taraksasterol dan juga laktucerol.

Biasanya, beberapa penyakit kulit bisa diobati dengan getah tanaman patah tulang. Beberapa penyakit kulit yang bisa disembuhkan di antaranya seperti mengatasi kapalan, menyembuhkan kutil, menghilangkan tahi lalat, mengurangi nyeri persendian, menyembuhkan sakit gigi, mempercepat penyembuhan luka, mencegah kanker payudara, hingga mengatasi batuk.

Bagi masyarakat Jawa, tapal dari batang atau kulit tanaman ini juga bisa digunakan untuk mengatasi seseorang yang mengalami kondisi patah tulang. Penggunaan tanaman ini sebagai bahan untuk menyembuhkan kondisi patah tulang terhitung sudah dari lama. Untuk penggunaannya, kulit tanaman ini bakal dihaluskan dan dibalurkan dan dibungkus menggunakan perban pada area yang mengalami patah tulang.

Selain dari segi kesehatan, ada berbagai manfaat lain yang bisa diperoleh dari tanaman patah tulang. Masyarakat pedesaan biasanya memanfaatkan tanaman patah tulang untuk meracuni ikan di sungai supaya mudah ditangkap. Untuk manfaat lainnya, tumbuhan patah tulang juga bisa digunakan untuk mengusir nyamuk dan mengeluarkan bisa ular.

Itulah segudang manfaat dari tumbuhan patah tulang. Sayangnya, di balik banyaknya manfaat itu, getah dari patah tulang jika terkena mata berisiko menyebabkan mata buta. Oleh karena itu, perlu penanganan khusus dalam hal menggunakan tanaman sejuta khasiat ini.

Tanaman Kemuning

Tanaman kemuning menggambarkan pasaran Pon. Tumbuhan bernama latin Murraya paniculata ini berasal dari famili Rutaceae. Kemuning tidak sulit ditemukan di Indonesia. Pasalnya, tanaman ini merupakan tumbuhan tropis. Gara-gara karakteristiknya, kemuning bisa tumbuh liar layaknya semak belukar. Beberapa tempat yang biasanya ditumbuhi oleh kemuning seperti di tepi hutan. Selain itu, bagi masyarakat Jawa, tanaman ini sebetulnya juga sangat familiar lantaran bisa dijadikan sebagai pagar rumah.

Salah satu ciri-ciri dari kemuning ini adalah memiliki daun seperti daun jeruk. Namun, secara ukuran daunnya lebih kecil. Sedangkan, untuk pohonnya sendiri, kemuning bisa tumbuh hingga 12 meter. Namun, yang banyak ditemui dan biasanya tumbuh seperti belukar atau dalam bentuk pagar, kemuning tumbuh berkisar 2 hingga 3 meter. Kemudian, salah satu yang menarik dari kemuning ini adalah ia selalu berbunga sepanjang tahun. 

Dari segi kayu, kemuning tergolong memiliki yang cukup bagus, keras, dan ulet. Bentuk lain dari kemuning ini memang seperti semak dan memiliki pohon kecil serta bercabang banyak. Jika dipegang, batangnya terasa keras dan beralur.

Ada berbagai manfaat dari tanaman kemuning ini. Terutama bagian daun, bagi masyarakat Jawa kerap menggunakannya sebagai obat diare dan disentri. Tak hanya itu saja, manfaat lain dari daunnya yakni bisa untuk menyembuhkan keputihan, kencing nanah, sakit gigi, hingga radang buah zakar. Sedangkan, bagian lainnya dari kemuning yang bisa dijadikan sebagai obat adalah akarnya. Akar kemuning memiliki rasa pedas, pahit, dan hangat. Dari akar inilah kemudian digadang bisa sebagai obat penenang, obat anti radang, menghilangkan bengkak, hingga melancarkan peredaran darah.

Burung Bubut

Burung bubut jawa yang memiliki nama latin Centropus nigrorufus menjadi penggambaran weton hari Selasa. Burung endemik Jawa ini masuk dalam keluarga Cuculidae. Famili tersebut sebetulnya tersebar luas di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, berbagai wilayah kepulauan yang memiliki hutan lebat dihuni oleh berbagai spesies burung bubut. Jenis burung ini sangat terkenal sebagai parasit lantaran tidak membuat sarang dan tidak mengasuh anakan. Ketika bertelur, burung ini bakal menutupkan telur di inang jenis lain.

Untuk bubut jawa sendiri memiliki ciri-ciri bulu di badannya berwarna hitam. Sedangkan, pada sayapnya berwarna coklat kemerahan. Dengan ukuran kurang lebih 46 sentimeter, burung ini kerap bertengger di pohon-pohon yang memiliki banyak ranting kecil seperti bambu, jati, dan hutan bakau. Untuk mengenali jenis bubut jawa, bisa juga dilihat dari matanya yang berwarna merah dan ekor berwarna hitam.

Jenis burung bubut jawa sebetulnya mirip dengan bubut besar. Namun, secara ukuran bubut jawa lebih kecil dan memiliki warna hitam yang lebih suram dan hampir kotor. Dari segi suara, bubut jawa biasanya mengeluarkan bunyi "whup-pupupupupu-pup" yang diulang terus. Jenis suara ini beberapa sumber menyebut masuk dalam kategori tidak enak didengar. Lalu, untuk membedakan antara jantan dan betina cukup sulit. Hal ini lantaran ukuran keduanya hampir mirip, meski lebih besar betina.

Meski memiliki paruh yang sangar dan tubuh yang besar, bubut jawa bukanlah jenis burung raptor. Jenis makanan dari hewan ini adalah serangga seperti ulat bulu, capung, jangkrik, kumpang, dan kupu-kupu. Selain itu, beberapa hewan yang ukurannya kecil seperti siput, katak, tikus kecil juga menjadi santapan bubut jawa.

Sementara itu, untuk persebarannya, bubut jawa merupakan endemik Jawa. Namun, baru-baru ini di Pulau Madura juga ditemukan burung ini. Secara persebaran ini, bubur jawa bisa dijumpai pada dataran rendah dan vegetasi yang rapat. Biasanya untuk habitatnya, bubut jawa bisa hidup di ketinggian mendapat 800 meter di atas permukaan laut.

Hingga dewasa ini, bubut jawa sebetulnya masuk dalam kategori burung yang makin terancam. Pada 2016, International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) memperkirakan jumlah burung ini kurang lebih  250 sampai 10 ribu ekor. Statusnya pun bisa dibilang rentan. Adanya ancaman ini mulai dari kerusakan habitat burung seperti alih fungsi lahan, keberadaan pabrik, dan adanya faktor polusi. Selain itu, perburuan liar yang masih marak juga menjadi ancaman tersendiri.

Burung bubut jawa dianggap menjadi salah satu pembawa pertanda. Kepercayaan ini mulai dari kaitannya dengan suaranya. Beberapa kebudayaan masyarakat menganggap bahwa suara burung ini sebagai pertanda datangnya hujan atau perubahan cuaca. Selain itu, burung bubut juga dianggap sebagai simbol membawa keberuntungan maupun nasib buruk.

Burung Kepodang

Burung kepodang menjadi penggambaran dari pasaran Pon. Burung yang masuk dalam ordo Passeriformes famili Oriolidae ini banyak ditemukan di Indonesia. Mulai dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, hingga semenanjung Malaya. Dilihat dari segi ciri-ciri, burung kepodang sangatlah unik dan khas. Salah satu yang terkenal dari burung ini adalah penampilannya yang rapi dan tampak mempesona. Bahkan, tak sedikit yang menjuluki burung ini sebagai burung pesolek lantaran memiliki bulu yang indah.

Bulu kepodang memiliki ciri memiliki bulu berwarna kuning dan hitam. Ukurannya relatif sedang dengan panjang sekitar 25 sentimeter. Jika dilihat dari berbagai spesiesnya, kepodang terbagi dalam beberapa jenis. Mulai dari kepodang hutan, kepodang hitam, kepodang melayu, kepodang hawa, kepodang kerudung-hitam, dan kepodang kuduk-hitam. Warna hitam dan kuning mendominasi dari beberapa jenis kepodang itu. 

Kepodang hutan memiliki warna kombinasi kuning, hitam, dan cokelat abu-abu. Kepodang kuduk-hitam berwarna kuning dominan dan sayap bawah berwarna hitam. Kemudian, kepodang kerudung-hitam hampir sama dengan kepodang kuduk-hitam. Tetapi, yang membedakan adalah di bagian kepala kepodang kerudung-hitam ini terdapat bulu berwarna hitam. Seakan-akan burung tersebut memang sedang memakai kerudung hitam.

Sementara itu, kepodang hitam sesuai namanya yakni memiliki warna bulu yang mayoritas hitam. Jenis kepodang hitam ini kemudian mirip dengan kepodang jawa dan kepodang melayu. Hal ini karena keduanya memiliki dominasi bulu berwarna hitam. Tetapi, di bagian dada dua jenis burung ini terdapat warna merah untuk membedakan antara si jantan dan betina. Sayangnya, dari beberapa jenis kepodang ini, memang agak sulit untuk membedakan antara yang jantan dan betina itu.

Kepodang biasanya hidup di hutan-hutan terutama di daerah tropis dan subtropis. Burung ini biasanya hidup komunal atau berkelompok. Atau, paling tidak kepodang bakal hidup berpasangan. Termasuk dalam hal mencari makan, kepodang bakal tetap menerapkan laku kolektif. Burung ini biasanya bertahan hidup dengan mencari makanan seperti buah-buahan seperti pepaya, jeruk, hingga beberapa jenis serangga.

Delima Purnama Sari
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram