admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Ahad Pahing

Oleh:
Zsa Zsa

Tanaman Beringin

Hari Ahad atau Minggu memiliki kedudukan tersendiri dalam khazanah simbol-simbol weton Jawa. Ada banyak ciri yang menjadi gambaran hari tersebut. Salah satunya adalah simbol tanaman. Seperti dijelaskan dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, Ahad memiliki penggambaran sifat pohon beringin. Pohon besar nan rindang ini menjadi salah satu unsur pohon dari hari Minggu.

Pohon yang memiliki nama latin Ficus benjamina ini juga disebut sebagai waringin. Ditilik dari keberadaannya, beringin merupakan tumbuhan asli yang hidup di wilayah Asia dan Australia. Biasanya, tanaman ini bisa tumbuh di pekarangan, sawah, hingga bisa menjadi hiasan di dalam pot. Secara persebaran, tanaman ini pun bisa dibilang cukup banyak karena sifatnya yang mudah untuk tumbuh di iklim tropis. Daerah yang memiliki perairan seperti pinggiran sungai menjadi salah satu tempat tumbuhnya beringin. Gara-gara persebarannya yang mudah, banyak pejabat kerajaan di Jawa yang menanam beringin, Mereka menanam tumbuhan ini mulai dari di alun-alun keraton, rumah adipati maupun bupati, hingga kantor lurah dan kepala desa. 

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, beringin dianggap sebagai salah satu pohon yang sakral. Keberadaannya bisa menjadi simbol perlindungan bagi penduduk setempat. Bahkan, tak jarang yang percaya atau menganggap bahwa beringin ini ketika sudah tua dan berukuran besar, menjadi tempat berkumpulnya kekuatan magis. Kesan angker dan segan pun lekat dengan pohon ini. Kesan angker dari beringin juga muncul seiring dengan perkembangan banyaknya makam-makam tradisional di Jawa yang ditanami beringin. Hal inilah kemudian makin mengesankan bahwa posisi pohon tersebut setara dengan roh para leluhur yang perlu dihormati maupun dimuliakan.

Bagi masyarakat Jawa, beringin memang bukanlah pohon sembarangan. Tanaman yang bisa berusia hingga ratusan tahun ini dipandang sebagai pohon hayat. Disebut demikian lantaran secara filosofis mampu memberikan kehidupan pada manusia. Beringin juga memiliki makna sebagai pelengkap pengayoman. Struktur pohonnya yang menjulang tinggi dan daunnya yang lebat, bisa menghindarkan manusia dari sinar matahari secara langsung. Ketika berteduh di bawahnya, dengan tinggi bisa mencapai 20-50 meter, rasa teduh seketika muncul. 

Selain penggambaran itu, beringin dalam masyarakat Jawa juga dianggap sebagai simbol  persatuan antarmanusia. Mengapa bisa demikian? Diketahui bahwa beringin ini melambangkan "Manunggaling Kawula Gusti" atau bersatunya manusia dengan Tuhan, termasuk dalam hal ini juga menggambarkan bagaimana rakyat yang bersatu dengan pemimpinnya. Tak hanya itu, secara simbolisme, beringin juga menggambarkan pribadi yang tangguh. Dengan bentuk pohon yang kuat dan kokoh, menggambarkan bahwa manusia memiliki keinginan untuk maju. Keberadaan akar beringin yang menjuntai dari atas ke bawah pun juga menjadi simbol manusia haruslah ingat dengan asal-usulnya.

Selain dari segi filosofis, beringin sendiri juga kaya akan manfaat. Imam Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru (2017), menjelaskan bahwa pohon ini mulai dari daun, akar, dan kulit batang memiliki kandungan saponin, flavonoida dan polifenol. Kandungan tersebut diketahui berkhasiat bisa untuk mengobati serangan kejang pada anak-anak ketika mengalami panas atau demam. Bagian lainnya seperti akar yang menjuntai dari atas ke bawah itu, dianggap mengandung asam amino, fenol, gula, dan asam orange.

Itulah berbagai khasiat dari beringin. Pohon ini pun menjadi jenis pohon yang multifungsi. Selain bermanfaat bagi manusia, beringin yang menjulang dan rimbun ini juga sebagai sumber oksigen. Bahkan, keberadaannya juga bisa sebagai tempat berkumpulnya sumber air. Tak jarang biasanya di bawah pohon beringin ini pasti terdapat sumber air yang jernih dan bisa awet di kala kemarau tiba. Pada akhirnya, beringin ini sebetulnya telah memperlihatkan bagaimana eksistensinya yang menyimpan berbagai manfaat, baik untuk kehidupan manusia dan lingkungan alam.

Tanaman Ingas

Pahing digambarkan dengan tanaman ingas atau dalam bahasa Indonesia disebut rengas. Tumbuhan ini merupakan salah satu anggota dari genus Gluta renghas yang tersebar luas. Namun, di Jawa sendiri, sayangnya pohon ini makin langka ditemukan. Beriringan dengan namanya yang jarang disebutkan, keberadaan dari tanaman ingas ini juga kian jarang ditemukan.

Jika dilihat dari ciri-cirinya, ingas merupakan salah satu pohon dengan ukuran sedang hingga besar. Ketinggian dari pohon ingas bisa mencapai 50 meter. Bahkan, bisa dibilang pohon ingas sendiri adalah pohon raksasa yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Tumbuhan ingas biasanya bakal tumbuh berkelompok seperti di hutan-hutan atau semak belukar dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Kemudian, untuk daunnya, ingas memiliki ciri-ciri tersusun dalam bentuk spiral. Daun ini juga tunggal dan bertepi rata dan tidak memiliki daun penumpu.

Meski pohon ingas bisa berukuran besar dan cukup bagus, kayu dari ingas dinilai jarang dimanfaatkan. Hal ini lantaran merujuk pada pohon ingas memiliki getah beracun yang cukup berbahaya bagi manusia. Jika terkena kulit, getah ini bisa menyebabkan radang pada kulit dan iritasi hebat. Gara-gara saking berbahayanya getah ingas ini, masyarakat tradisional dikabarkan juga tidak berani berteduh di bawah pohon ingas. Hal ini juga karena ada kepercayaan bahwa pohon ingas bisa mengeluarkan uap yang berbahaya bagi keselamatan manusia.

Bagi masyarakat Jawa, pohon ingas memang ditakuti. Iman Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru: Kisah Manusia Jawa dan Tumbuhan (2017), menjelaskan bahwa banyak kisah yang menceritakan tentang kayu ingas yang dilemparkan ke sungai. Akhirnya, gara-gara ini, banyak orang-orang yang mandi di hilir bakal menderita peradangan kulit yang tak disangka-sangka. Selain itu, getah dari ingas sendiri juga pernah dijadikan sebagai salah satu racun yang dipasang di ujung tombak atau panah dalam peperangan di Tanah Jawa.

Burung Hantu

Bagi manusia Jawa, selain dekat dengan tanaman, juga memiliki kedekatan dengan berbagai jenis burung. Kedekatan dengan burung ini bukan sekadar relasi biasa. Tetapi, burung juga digunakan untuk menyematkan pesan dan warisan nilai-nilai luhur. Dalam penggambaran weton hari-hari selama sepekan, masing-masing memiliki penggambaran burung. Seperti pada hari Ahad atau Minggu, hari tersebut digambarkan dengan burung hantu. Burung hantu merupakan jenis burung nokturnal yang mencari makan pada malam hari. Salah satu keahliannya dalam berburu makanan adalah dengan mengandalkan indera pendengaran. Mulai dari kodok, tikus, dan serangga yang ada di sawah biasanya jadi santapan burung hantu.

Burung hantu memiliki piringan wajah berbentuk hati. Dengan bentuk wajah seperti itu, memudahkannya untuk menguatkan suara ketika berburu makanan. Bulu-bulu yang ada di tubuh burung ini pun tergolong halus. Saking halusnya, ketika terbang burung hantu tidak terdengar kepakan sayapnya. Selain itu, salah satu ciri khas dari burung hantu adalah spesies ini memiliki suara pekikan yang keras. Bahkan, jika didengar dalam keadaan gelap, suara ini bisa menakutkan.

Jika dilihat dari ordonya, burung hantu masuk dalam keluarga Strigiformes. Burung ini juga merupakan jenis karnivora. Sejauh ini, diketahui terdapat 222 spesies yang tersebar di seluruh dunia. Hampir seluruh wilayah di bumi ditinggali oleh burung hantu. Hanya wilayah Antartika dan Greenland dan pulau-pulau terpencil yang tidak ditinggali spesies ini.

Secara anatomi, burung hantu memiliki mata yang besar. Tak seperti burung lainnya yang memiliki mata menghadap ke samping, mata burung hantu justru menghadap ke depan. Untuk paruh atau moncongnya, burung ini terlihat seperti paruh elang yang bengkok dan tajam. Hal ini memang sesuai fungsinya sebagai salah satu burung buas.

Di Indonesia, ada berbagai jenis atau spesies burung hantu. Dikarenakan persebarannya yang luas ini, masing-masing wilayah di negeri ini memiliki nama panggilannya sendiri. Beberapa daerah menyebut burung hantu seperti serak, kukuk, beluk, celepuk, dan beluk-watu. Masyarakat Jawa mengenal burung hantu ini seperti serak jawa. Jenis spesies ini memiliki ukuran 34-36 sentimeter. Meski bernama serak jawa, burung hantu jenis ini juga tersebar di beberapa pulau sekitar seperti Sumatra, Bali, dan Kalimantan.

Kebiasaan dari burung ini adalah keluar dari sarang ketika sore dan kembali lagi pada waktu subuh. Berbeda dengan burung lain yang membikin sarang di ranting-ranting pohon, serak jawa dan berbagai jenis burung hantu lainnya memilih tinggal di dalam pohon. Mereka bakal menggali ubang di pohon sebagai tempat tidur dan terhindar dari sinar matahari maupun hujan. Beberapa pohon yang menjadi sarang burung ini seperti trembesi, mangga, dan pohon lain yang ukurannya cukup untuk ukuran mereka.

Bagi masyarakat Jawa, burung hantu kental akan nilai filosofi. Ada berbagai kepercayaan terkait burung ini. Salah satunya burung ini dikenal sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia yang niskala. Tak hanya itu, beberapa orang suara burung hantu "see-rak" menjadi pertanda kabar buruk. Dalam pertanda satu ini, suara atau kehadiran burung hantu di sekitar rumah atau tempat tinggal menjadi pertanda sesuatu yang negatif.

Pertanda burung hantu juga menjadi simbol keberuntungan. Beberapa kebudayaan  maupun tradisi, burung hantu mampu menjadi pembawa pesan dunia spiritual yang lekat dengan alam gaib.

Burung Engkuk Jawa

Pada pasaran Pahing, digambarkan burung engkuk jawa atau juga dikenal sebagai takur ungkut-ungkut. Burung yang memiliki nama latin Psilopogon haemacephalus ini tersebar luas di beberapa wilayah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Di Indonesia, beberapa pulau seperti Sumatra, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara terdapat burung ini.

Salah satu yang menarik dari burung takur ungkut-ungkut ini adalah memiliki tubuh kecil dan menawan. Ciri-cirinya seperti keberadaan warna hijau pada hampir seluruh bulunya. Warna merah menjadi ciri khas dari jambul atau bulu di atas paruhnya. Sedangkan, warna kuning ada di bawah pelatuknya dan menghiasi bulu di sekitar area mata hampir berbentuk lingkaran. Lalu, warna merah ada di bagian leher dan kakinya. Secara ukuran, burung engkuk jawa ini memiliki panjang 15-17 sentimeter dan berat kurang lebih 30-52 gram.

Sebetulnya, engkuk jawa ini juga mirip dengan burung pelatuk. Kesamaan dengan burung tersebut adalah sama-sama tinggal di dalam pohon. Baik engkuk jawa dan pelatuk sama-sama melubangi pohon yang bakal dijadikan sebagai sarangnya. Dengan melihat tempat sarangnya itu, habitat dari engkuk jawa sudah bisa ditebak. Hampir di seluruh wilayah tempatnya ditemukan, takur ungkut-ungkut mendiami wilayah perkebunan dan hutan. Untuk membuat sarang, burung ini tak bisa sembarangan dalam memilih pohon. Biasanya, spesies ini bakal mencari pohon yang sudah kering karena bakal mudah untuk dilubangi. Takur ungkut-ungkut banyak ditemukan di ketinggian di bawah 1.500 meter dari permukaan laut.

Kebiasaan dari burung takur ungkut-ungkut yakni kerap menyendiri. Jika berkelompok, maka burung ini bakal berkumpul dengan kelompok kecil. Untuk bertahan hidup, burung takur ungkut-ungkut bakal mencari makan buah-buahan, meski kadang juga burung ini biasanya makan serangga kecil seperti rayap.

Selain warnanya yang menarik, suara dari burung takur ungkut-ungkut ini sangatlah khas, yakni "tuk, tuk, tuk...". Dengan bunyi seperti itu, biasanya burung ini bakal terus mengeluarkan suara hingga beberapa menit. Untuk menemukan burung ini. Biasanya takur ungkut-ungkut bisa dijumpai di pedesaan dan perkotaan yang masih memiliki ruang terbuka hijau.

Keberadaan burung takur ungkut-ungkut sangat penting. Hal ini berkaitan dengan eksistensinya yang bisa menjadi penyeimbang ekosistem. Salah satu keuntungan dari adanya burung ini adalah ia mampu menjadi penyebar biji. Penyebaran biji-bijian ini berasal dari sisa makanannya.

Sementara itu, menurut catatan primbon Jawa, burung engkuk atau takur ungkut-ungkut menjadi pertanda tersendiri. Hal ini terutama ketika burung tersebut berada di sekitaran rumah, maka kehadirannya bisa membawa isyarat. Salah satu pertanda dari kehadiran burung engkuk jawa ini adalah bakal membawa keberuntungan bagi si pemilik rumah.

Zsa Zsa
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram