Hari Ahad atau Minggu memiliki kedudukan tersendiri dalam khazanah simbol-simbol weton Jawa. Ada banyak ciri yang menjadi gambaran hari tersebut. Salah satunya adalah simbol tanaman. Seperti dijelaskan dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, Ahad memiliki penggambaran sifat pohon beringin. Pohon besar nan rindang ini menjadi salah satu unsur pohon dari hari Minggu.
Pohon yang memiliki nama latin Ficus benjamina ini juga disebut sebagai waringin. Ditilik dari keberadaannya, beringin merupakan tumbuhan asli yang hidup di wilayah Asia dan Australia. Biasanya, tanaman ini bisa tumbuh di pekarangan, sawah, hingga bisa menjadi hiasan di dalam pot. Secara persebaran, tanaman ini pun bisa dibilang cukup banyak karena sifatnya yang mudah untuk tumbuh di iklim tropis. Daerah yang memiliki perairan seperti pinggiran sungai menjadi salah satu tempat tumbuhnya beringin. Gara-gara persebarannya yang mudah, banyak pejabat kerajaan di Jawa yang menanam beringin, Mereka menanam tumbuhan ini mulai dari di alun-alun keraton, rumah adipati maupun bupati, hingga kantor lurah dan kepala desa.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, beringin dianggap sebagai salah satu pohon yang sakral. Keberadaannya bisa menjadi simbol perlindungan bagi penduduk setempat. Bahkan, tak jarang yang percaya atau menganggap bahwa beringin ini ketika sudah tua dan berukuran besar, menjadi tempat berkumpulnya kekuatan magis. Kesan angker dan segan pun lekat dengan pohon ini. Kesan angker dari beringin juga muncul seiring dengan perkembangan banyaknya makam-makam tradisional di Jawa yang ditanami beringin. Hal inilah kemudian makin mengesankan bahwa posisi pohon tersebut setara dengan roh para leluhur yang perlu dihormati maupun dimuliakan.
Bagi masyarakat Jawa, beringin memang bukanlah pohon sembarangan. Tanaman yang bisa berusia hingga ratusan tahun ini dipandang sebagai pohon hayat. Disebut demikian lantaran secara filosofis mampu memberikan kehidupan pada manusia. Beringin juga memiliki makna sebagai pelengkap pengayoman. Struktur pohonnya yang menjulang tinggi dan daunnya yang lebat, bisa menghindarkan manusia dari sinar matahari secara langsung. Ketika berteduh di bawahnya, dengan tinggi bisa mencapai 20-50 meter, rasa teduh seketika muncul.
Selain penggambaran itu, beringin dalam masyarakat Jawa juga dianggap sebagai simbol persatuan antarmanusia. Mengapa bisa demikian? Diketahui bahwa beringin ini melambangkan "Manunggaling Kawula Gusti" atau bersatunya manusia dengan Tuhan, termasuk dalam hal ini juga menggambarkan bagaimana rakyat yang bersatu dengan pemimpinnya. Tak hanya itu, secara simbolisme, beringin juga menggambarkan pribadi yang tangguh. Dengan bentuk pohon yang kuat dan kokoh, menggambarkan bahwa manusia memiliki keinginan untuk maju. Keberadaan akar beringin yang menjuntai dari atas ke bawah pun juga menjadi simbol manusia haruslah ingat dengan asal-usulnya.
Selain dari segi filosofis, beringin sendiri juga kaya akan manfaat. Imam Budhi Santosa dalam Suta Naya Dhadhap Waru (2017), menjelaskan bahwa pohon ini mulai dari daun, akar, dan kulit batang memiliki kandungan saponin, flavonoida dan polifenol. Kandungan tersebut diketahui berkhasiat bisa untuk mengobati serangan kejang pada anak-anak ketika mengalami panas atau demam. Bagian lainnya seperti akar yang menjuntai dari atas ke bawah itu, dianggap mengandung asam amino, fenol, gula, dan asam orange.
Itulah berbagai khasiat dari beringin. Pohon ini pun menjadi jenis pohon yang multifungsi. Selain bermanfaat bagi manusia, beringin yang menjulang dan rimbun ini juga sebagai sumber oksigen. Bahkan, keberadaannya juga bisa sebagai tempat berkumpulnya sumber air. Tak jarang biasanya di bawah pohon beringin ini pasti terdapat sumber air yang jernih dan bisa awet di kala kemarau tiba. Pada akhirnya, beringin ini sebetulnya telah memperlihatkan bagaimana eksistensinya yang menyimpan berbagai manfaat, baik untuk kehidupan manusia dan lingkungan alam.
Tanaman kemuning menggambarkan pasaran Pon. Tumbuhan bernama latin Murraya paniculata ini berasal dari famili Rutaceae. Kemuning tidak sulit ditemukan di Indonesia. Pasalnya, tanaman ini merupakan tumbuhan tropis. Gara-gara karakteristiknya, kemuning bisa tumbuh liar layaknya semak belukar. Beberapa tempat yang biasanya ditumbuhi oleh kemuning seperti di tepi hutan. Selain itu, bagi masyarakat Jawa, tanaman ini sebetulnya juga sangat familiar lantaran bisa dijadikan sebagai pagar rumah.
Salah satu ciri-ciri dari kemuning ini adalah memiliki daun seperti daun jeruk. Namun, secara ukuran daunnya lebih kecil. Sedangkan, untuk pohonnya sendiri, kemuning bisa tumbuh hingga 12 meter. Namun, yang banyak ditemui dan biasanya tumbuh seperti belukar atau dalam bentuk pagar, kemuning tumbuh berkisar 2 hingga 3 meter. Kemudian, salah satu yang menarik dari kemuning ini adalah ia selalu berbunga sepanjang tahun.
Dari segi kayu, kemuning tergolong memiliki yang cukup bagus, keras, dan ulet. Bentuk lain dari kemuning ini memang seperti semak dan memiliki pohon kecil serta bercabang banyak. Jika dipegang, batangnya terasa keras dan beralur.
Ada berbagai manfaat dari tanaman kemuning ini. Terutama bagian daun, bagi masyarakat Jawa kerap menggunakannya sebagai obat diare dan disentri. Tak hanya itu saja, manfaat lain dari daunnya yakni bisa untuk menyembuhkan keputihan, kencing nanah, sakit gigi, hingga radang buah zakar. Sedangkan, bagian lainnya dari kemuning yang bisa dijadikan sebagai obat adalah akarnya. Akar kemuning memiliki rasa pedas, pahit, dan hangat. Dari akar inilah kemudian digadang bisa sebagai obat penenang, obat anti radang, menghilangkan bengkak, hingga melancarkan peredaran darah.
Bagi manusia Jawa, selain dekat dengan tanaman, juga memiliki kedekatan dengan berbagai jenis burung. Kedekatan dengan burung ini bukan sekadar relasi biasa. Tetapi, burung juga digunakan untuk menyematkan pesan dan warisan nilai-nilai luhur. Dalam penggambaran weton hari-hari selama sepekan, masing-masing memiliki penggambaran burung. Seperti pada hari Ahad atau Minggu, hari tersebut digambarkan dengan burung hantu. Burung hantu merupakan jenis burung nokturnal yang mencari makan pada malam hari. Salah satu keahliannya dalam berburu makanan adalah dengan mengandalkan indera pendengaran. Mulai dari kodok, tikus, dan serangga yang ada di sawah biasanya jadi santapan burung hantu.
Burung hantu memiliki piringan wajah berbentuk hati. Dengan bentuk wajah seperti itu, memudahkannya untuk menguatkan suara ketika berburu makanan. Bulu-bulu yang ada di tubuh burung ini pun tergolong halus. Saking halusnya, ketika terbang burung hantu tidak terdengar kepakan sayapnya. Selain itu, salah satu ciri khas dari burung hantu adalah spesies ini memiliki suara pekikan yang keras. Bahkan, jika didengar dalam keadaan gelap, suara ini bisa menakutkan.
Jika dilihat dari ordonya, burung hantu masuk dalam keluarga Strigiformes. Burung ini juga merupakan jenis karnivora. Sejauh ini, diketahui terdapat 222 spesies yang tersebar di seluruh dunia. Hampir seluruh wilayah di bumi ditinggali oleh burung hantu. Hanya wilayah Antartika dan Greenland dan pulau-pulau terpencil yang tidak ditinggali spesies ini.
Secara anatomi, burung hantu memiliki mata yang besar. Tak seperti burung lainnya yang memiliki mata menghadap ke samping, mata burung hantu justru menghadap ke depan. Untuk paruh atau moncongnya, burung ini terlihat seperti paruh elang yang bengkok dan tajam. Hal ini memang sesuai fungsinya sebagai salah satu burung buas.
Di Indonesia, ada berbagai jenis atau spesies burung hantu. Dikarenakan persebarannya yang luas ini, masing-masing wilayah di negeri ini memiliki nama panggilannya sendiri. Beberapa daerah menyebut burung hantu seperti serak, kukuk, beluk, celepuk, dan beluk-watu. Masyarakat Jawa mengenal burung hantu ini seperti serak jawa. Jenis spesies ini memiliki ukuran 34-36 sentimeter. Meski bernama serak jawa, burung hantu jenis ini juga tersebar di beberapa pulau sekitar seperti Sumatra, Bali, dan Kalimantan.
Kebiasaan dari burung ini adalah keluar dari sarang ketika sore dan kembali lagi pada waktu subuh. Berbeda dengan burung lain yang membikin sarang di ranting-ranting pohon, serak jawa dan berbagai jenis burung hantu lainnya memilih tinggal di dalam pohon. Mereka bakal menggali ubang di pohon sebagai tempat tidur dan terhindar dari sinar matahari maupun hujan. Beberapa pohon yang menjadi sarang burung ini seperti trembesi, mangga, dan pohon lain yang ukurannya cukup untuk ukuran mereka.
Bagi masyarakat Jawa, burung hantu kental akan nilai filosofi. Ada berbagai kepercayaan terkait burung ini. Salah satunya burung ini dikenal sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia yang niskala. Tak hanya itu, beberapa orang suara burung hantu "see-rak" menjadi pertanda kabar buruk. Dalam pertanda satu ini, suara atau kehadiran burung hantu di sekitar rumah atau tempat tinggal menjadi pertanda sesuatu yang negatif.
Pertanda burung hantu juga menjadi simbol keberuntungan. Beberapa kebudayaan maupun tradisi, burung hantu mampu menjadi pembawa pesan dunia spiritual yang lekat dengan alam gaib.
Burung kepodang menjadi penggambaran dari pasaran Pon. Burung yang masuk dalam ordo Passeriformes famili Oriolidae ini banyak ditemukan di Indonesia. Mulai dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, hingga semenanjung Malaya. Dilihat dari segi ciri-ciri, burung kepodang sangatlah unik dan khas. Salah satu yang terkenal dari burung ini adalah penampilannya yang rapi dan tampak mempesona. Bahkan, tak sedikit yang menjuluki burung ini sebagai burung pesolek lantaran memiliki bulu yang indah.
Bulu kepodang memiliki ciri memiliki bulu berwarna kuning dan hitam. Ukurannya relatif sedang dengan panjang sekitar 25 sentimeter. Jika dilihat dari berbagai spesiesnya, kepodang terbagi dalam beberapa jenis. Mulai dari kepodang hutan, kepodang hitam, kepodang melayu, kepodang hawa, kepodang kerudung-hitam, dan kepodang kuduk-hitam. Warna hitam dan kuning mendominasi dari beberapa jenis kepodang itu.
Kepodang hutan memiliki warna kombinasi kuning, hitam, dan cokelat abu-abu. Kepodang kuduk-hitam berwarna kuning dominan dan sayap bawah berwarna hitam. Kemudian, kepodang kerudung-hitam hampir sama dengan kepodang kuduk-hitam. Tetapi, yang membedakan adalah di bagian kepala kepodang kerudung-hitam ini terdapat bulu berwarna hitam. Seakan-akan burung tersebut memang sedang memakai kerudung hitam.
Sementara itu, kepodang hitam sesuai namanya yakni memiliki warna bulu yang mayoritas hitam. Jenis kepodang hitam ini kemudian mirip dengan kepodang jawa dan kepodang melayu. Hal ini karena keduanya memiliki dominasi bulu berwarna hitam. Tetapi, di bagian dada dua jenis burung ini terdapat warna merah untuk membedakan antara si jantan dan betina. Sayangnya, dari beberapa jenis kepodang ini, memang agak sulit untuk membedakan antara yang jantan dan betina itu.
Kepodang biasanya hidup di hutan-hutan terutama di daerah tropis dan subtropis. Burung ini biasanya hidup komunal atau berkelompok. Atau, paling tidak kepodang bakal hidup berpasangan. Termasuk dalam hal mencari makan, kepodang bakal tetap menerapkan laku kolektif. Burung ini biasanya bertahan hidup dengan mencari makanan seperti buah-buahan seperti pepaya, jeruk, hingga beberapa jenis serangga.