admin@kitabatik.id
Sawit RT.03, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta
Blog

Tulisan

Senen Kuning

Hari Senen atau Senin disimbolisasikan dengan warna kuning. Warna ini dianggap memiliki makna terkait dengan keluhuran, kemuliaan, kemakmuran, dan ketenteraman. Selain itu, kuning juga merujuk pada tradisi slametan yang kerap dilakukan oleh masyarakat Jawa. Upacara ini biasanya kerap menghadirkan tumpeng yang berbahan dasar nasi kuning. Warna kuning pun kental dimaknai dengan memohon keselamatan dari sang […]

Read More
Ahad Abu-abu

Dalam primbon Jawa, pasaran dari hari Ahad atau Minggu yakni disimbolkan dengan warna abu-abu. Warna ini dianggap sebagai warna keberuntungan dan cocok untuk hari tersebut. Abu-abu sendiri merupakan warna yang dekat dengan masyarakat Jawa. Kedekatan ini tercermin dari penggunaan warna alami yang bersumber dari warna alam. Salah satu bagian dari alam yang menyediakan warna abu-abu […]

Read More
Unsur Warna

Selain unsur alam, dalam simbolisasi pasaran masyarakat Jawa juga terdapat unsur warna. Unsur ini melekat di setiap pasaran yang berbeda-beda. Eksistensi warna pun memiliki peranan penting sebagai bagian elemen kehidupan. Berkat warna, dunia makin indah. Adanya warna ini pun mampu mengingatkan tentang suatu tempat, kejadian, hingga berbagai tradisi dalam masyarakat. Berbagai warna juga turut melambangan […]

Read More
Kebutuhan Manusia Akan Kalender

Secara umum, fungsi kalender adalah untuk mengukur waktu yang dapat membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Istilah kalender sendiri berakar dari kata calendarium yang dalam bahasa Latin berarti: buku atau daftar catatan. Sedang kata calendarium merupakan turunan dari kata calendae (Kalendae), yaitu: hari pertama dalam bulan menurut kalender Romawi, hari di mana hari-hari pasar, perayaan, […]

Read More
Manusia Sebagai Subjek Berwaktu

Setidaknya, secara fungsi waktu bisa dijelaskan dalam tiga kategori kebutuhan. Pertama, kebutuhan religiositas. Dalam konteks ini, waktu berfungsi menjadi satu penanda yang agung dan sakral/suci dalam tradisi manusia pra modern maupun modern. Itu sebabnya dalam masyarakat tradisional, waktu digunakan tak hanya untuk menandai aktivitas pergantian hari seperti siang dan malam, tetapi juga sebagai bentuk wujud […]

Read More
Bermula dari Waktu #3

Mangsa menyitir Herusatoto, adalah istilah perlambangan bagi pertandaan periodisasi iklim (keadaan cuaca alam) di bumi akibat pengaruh pergeseran letak garis edar matahari. Mangsa (iklim) dibagi dalam dua belas tahap perputaran (periodisasi), yaitu: Pertama, Mangsa Mareng (musim pancaroba-5 kondisi serba kalut) akibat peralihan musim hujan ke musim kemarau, yaitu kadang-kadang hujan deras, hujan angin, angin besar […]

Read More
Bermula dari Waktu #2

Menurut kalender ptolemeus, setiap tahun terdiri dari 12 bulan, dan setiap bulan terdiri dari 30 hari, plus adanya lima hari tambahan. Jadi setahun ada 365 hari. Padahal, kepastian kalender ini tidak tepat dengan fakta astronomis tentang peredaran bumi mengelilingi matahari per tahunnya, yang ternyata berlangsung tak persis 365 hari. Tetapi 365 hari, 5 jam, 48 […]

Read More
Bermula dari Waktu #1

Salah satu ciri khas di hampir setiap kebudayaan yaitu adanya sistem untuk melacak pergerakan waktu. Ketika berbicara waktu maka kita akan berbicara penanda, batasan, pengingat, dan seterusnya. Tetapi, apa yang dimaksud dengan waktu itu sendiri? Kapan waktu mulai dianggap penting dalam kehidupan manusia? Termasuk, bagaimana waktu disepakati sebagai penanda penting dalam sistem penanggalan manusia. Pertanyaan-pertanyaan […]

Read More
Fungsi Kalender Jawa sebagai Daur Hidup #2

Fungsi terakhir kalender Jawa dalam daur hidup adalah dalam kematian. Dalam ritus upacara kematian umumnya diselenggarakan oleh pejabat keagamaan di desa  (modin atau kaum). Pemakaman dalam budaya Jawa biasanya dilaksanakan secepat mungkin sesudah kematian. Ada kalanya keluarga menunda pemakaman untuk menunggu kerabat yang berasal dari tempat jauh. Alasan pemakaman disegerakan karena roh orang yang meninggal […]

Read More
Fungsi Kalender Jawa sebagai Daur Hidup #1

Orang Jawa memandang hidupnya perlu dijalani dengan penuh kehati-hatian. Oleh karena itu, ia merasa waspada dengan sesuatu di luar dirinya yang jauh lebih besar dari jangkauannya sendiri. Oleh karena itu, ia berusaha memberikan manfaat (kagunan) bagi lingkungan sekitarnya. Bermula dari hal itu, timbul dorongan untuk mengekspresikan eksistensi dirinya melalui perayaan untuk merespon alam dan lingkungannya. […]

Read More
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram